3.18 Sarwoto

3.18

Sarwoto

Sarwoto lahir 23 Agustus tahun 1920 di Desa Bendo, Gondalan, Klaten Tengah. Pendidikan sekolah guru. Setelah tamat ia mengajar pada sebuah sekolah dasar. Kemudian ia direkrut menjadi prajurit Angkatan Darat. Ia sempat menjadi Kepala Regu Datasemen 2132. Pangkat terakhirnya adalah letnan dua. Ia terakhir bertugas di Corp Polisi Militer. Kemudian ia lebih memilih menjadi anggota PKI ketimbang melanjutkan karirnya dalam dunia ketentaraan. Ia juga aktif dalam organisasi kepemudaan, Pemuda Rakyat Indonesia.

Setelah pecah Peristiwa G 30 S 1965, Sarwoto masih aktif mengajar. Tanggal 28 Oktober 1966, tanpa surat perintah, ia ditangkap ketika sedang mengajar di sebuah sekolah dasar. Setelah beberapa bulan ditahan di kamp penahanan Klaten dan Solo, Sarwoto dikirim ke penjara Nusakambangan. Di Nusakambangan ditahan selama 9 tahun untuk selanjutnya dikirim ke pulau pembuangan, Pulau Buru.

Pada suatu malam Sarwoto dan 30 tapol lainnya pernah diambil dari kamp penahanan dan dibawa ke daerah sepi di Kecamatan Pandan Simping. Semua tapol, kecuali Sarwoto, diperintahkan turun dari truk dengan tangan terikat dan mata tertutup. Ketika turun semuanya dieksekusi. Sarwoto lolos dari eksekusi, lantaran salah seorang polisi militer yang menjadi eksekutor mengenalnya. Eksekutor itu pernah menjadi anak buah Sarwoto ketika ia masih di Corp Polisi Militer. Setelah eksekusi selesai, Sarwoto dikembalikan ke kamp penahanan dengan menggunakan nama “NS” dibelakang namanya. Kemudian Sarwoto dikirim ke Nusakambangan.

Dalam proses eksekusi, tentara memerintahkan warga sekitar untuk menggali lubang dan menimbun jenasah tapol yang sudah dieksekusi.

Selama ditahan ia belajar pengobatan akupuntur. Ketika dipindah ke Pulau Buru, tugas Sarwoto adalah memberi pengobatan kepada teman-temannya melalui ilmu akupuntur yang dimiliki. Di Pulau Buru Sarwoto juga dipercaya untuk menjadi wakil pendeta kristen.

Sarwoto penah terlibat dalam peristiwa ‘penculikan’ Bung Karno di Rengasdengklok dan pertempuran melawan Belanda di daerah Semarang.

3.16 Winata

3.16

Winata

Klaten, 21 Juli 2000, 5 Agustus 2001

Winata lahir 10 Agustus 1926 di Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Pendidikan SR Lima Tahun (dahulu belum ada SR enam tahun). Tamat SR ia melanjutkan ke pendidikan menengah tingkat pertama, namun karena pecah Perang Dunia Kedua, ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya. Ayah Winata seorang pamong desa, dan juga anggota Syarekat Islam.

Saat terjadi perang untuk merebut kemerdekaan, ia terlibat dalam Laskar Rakyat. Front pertempuran yang ia ikuti antara lain pertempuran Ambarawa. Ia juga pernah menjadi anak buah Katamso (Perwira tinggi yang juga tewas dibunuh dalam peristiwa G 30 S di Jogjakarta) saat ia menjadi anggota Kompi 447.

Setelah tidak lagi tergabung Laskar Rakyat, ia bekerja sebagai pembantu mandor pengairan. Pada pertengahan era 40-an, Winata menjadi anggota Pesindo. Setelah itu ia kemudian menjadi anggota Pemuda Rakyat. Winata sempat menjadi Ketua Ranting Pemuda Rakyat. Disamping aktif dalam ormas, winata juga seorang pegawai pemerintahan di Pekerjaan Umum. Ia tergabung dalam Serikat Buruh Pekerjaan Umum (SBPU). Dalam SBPU ia menjabat sebagai Ketua SBPU Cabang Klaten. Tahun 1955 ia direkrut oleh SOBSI untuk menjadi Wakil Ketua SOBSI Cabang Klaten. Ia meninggalkan jabatannya dalam organisasi Pemuda Rakyat.

Di SOBSI ia mengkoordinir serikat buruh-serikat buruh yang ada dalam naungan SOBSI. Bersamaan dengan itu, di dinas Pekerjaan Umum, Winata menjabat sebagai mantri pengairan. Oleh tokoh-tokoh PKI ia dididik teori Marxisme dan Leninisme.

Dalam tahun 1965, aktivitas Winata tidak hanya meliputi Klaten, namun juga Jawa Tengah. Ketika ia baru bertugas setengah bulan di Purwokerto untuk konsolidasi buruh di sana, terjadi Peristiwa G 30 S. Winata pulang ke Klaten. Sebelum ke Klaten ia ke Semarang dahulu untuk melaporkan hasil pekerjaannya dan situasi politik pada organisasi.

Di Semarang ia melihat pasukan RPKAD pawai keliling kota Semarang. Karena banyaknya aksi penangkapan sewenang-wenang terhadap masyarakat oleh RPKAD, ia dan beberapa temannya mengorganisir buruh-buruh pabrik untuk melakukan pemogokan sebagai bentuk protes. Aksi tebang pohon pun terjadi sepanjang jalan Tegalgondo hingga Delanggu untuk merintangi mobilitas RPKAD.

Namun segala bentuk aksi protes terhadap tindakan RPKAD tidak ada artinya. Penangkapan terus berlanjut. Hingga pada akhirnya Winata dan kakaknya pun ditangkap oleh RPKAD. Pada penangkapan pertama ia hanya menginap satu malam di markas RPKAD, kemudian ia dilepaskan kembali. Untuk menghindari penangkapan berikutnya, ia dan kakaknya memilih bersembunyi. Hanya satu bulan ia dan kakaknya berhasil menghindari penangkapan oleh massa dan RPKAD. Tanggal 30 November 1965, ia dan kakaknya tertangkap.

Tahun 1970-akhir Winata dibebaskan. Namun tidak demikian halnya dengan sang kakak. Tanggal 26 Maret 1966 kakaknya diambil dari ruang tahanan. Itulah kali terakhir Winata berjumpa dengan kakaknya.

3.13 Ibu Murni

3.13

Ibu Murni

Klaten, 24 Juli 2000

Lahir tahun 1946. Pendidikan tamat Sekolah Menengah Pertama Kanisius. Ingin melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi tidak bisa karena orang tua miskin. Tamat sekolah kemudian ia mengikuti ujian masuk calon guru. Lulus ujian masuk ia menjadi guru di sebuah taman kanak-kanak yang didirikan oleh seorang lurah di desanya. Selain mengajar, Murni juga bergabung dengan organisasi Gerwani di kampungnya.

Pasca peristiwa G 30 S banyak sekali anggota Gerwani dan anggota organisasi yang dituduh onderbouw PKI ditangkapi, Murni menjadi takut. Ia pun memilih untuk bersembunyi. Semakin lama bersembunyi ia merasa semakin tertekan. Kemudian atas dorongan orangtuanya ia memutuskan untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Ia berharap akan diadili jika memang ia bersama Gerwani dituduh ingin memberontak.

Ia ditahan selama beberapa hari. Setelah mengalami pemeriksaan Ibu Murni kemudian dibebaskan. Walaupun ia telah memperoleh surat bebas namun ia tidak berani untuk segera pulang. Ia khawatir jiwanya justru terancam jika ia pulang. Sebab banyak massa yang memburu orang-orang yang dituduh menjadi anggota atau simpatisan PKI. Ia memilih tetap tinggal di tempat penahanan untuk menjadi pembantu rumah tangga komandan kamp. Ia juga diperbolehkan mengajar selama di kamp penahanan.

Setelah situasi benar-benar aman ia kembali ke kampung halamannya. Di kampung halamannya ia aktif menjadi anggota PKK.

3.11 Raharjo

3.11

Raharjo

Klaten, 23 Juli 2000

Raharjo lahir tahun 1935. Salah seorang adiknya ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena dituduh terlibat dalam Peristiwa G 30 S. Padahal adiknya tidak terlibat dalam organisasi apapun, ia hanyalah tukang kayu biasa.

Akibat dari peristiwa G 30 S itu pula rumah keluarga Raharjo dirobohkan oleh beberapa orang tapol yang diperintahkan oleh Koramil. Banyak tapol yang keberatan untuk merobohkan rumah orang tua Raharjo, namun karena dipaksa oleh Koramil akhirnya mereka mau juga.

Raharjo tidak tahu secara persis mengapa rumahnya dirobohkan. Yang ia tahu orangtuanya dituduh pembangkang. Sebelum dibongkar paksa, orangtuanya pernah diperingatkan oleh Koramil untuk membongkar sendiri rumahnya atau pergi dari rumah tersebut. Namun ayah Raharjo tetap ngotot untuk tinggal di rumah itu. Jika dipanggil Koramil dan dibentak-bentak oleh anggota koramil, orangtua Raharjo pun balas membentak.

Tanah di mana rumah itu berdiripun adalah tanah peninggalan Belanda yang jauh sebelum pembongkaran telah dibagi-bagi oleh pemerintahan desa setempat. Setelah berhasil menguasai tanah keluarga Raharjo, tanah tersebut kemudian diagi-bagikan kepada penguasa setempat. Setelah penguasa setempat memperoleh tanah, tanah itu kemudian dijual lagi kepada orang lain.

Raharjo mengatakan, bahwa beberapa hari setelah pecahnya G 30 S ada salah seorang anggota PNI menginap di rumahnya karena takut dengan orang-orang PKI. Ia (orang PNI) beranggapan bahwa jika PKI yang melakukan pembunuhan terhadap para jenderal, berarti PKI akan berkuasa dan anggota PNI akan terancam keberadaannya.