3.71 Mujali

3.71

Mujali

Pati, 25 Juli 2001

Lahir tahun 43. Sekolah hanya sampai kelas enam SR (tidak tamat). Pada tahun 63 di desanya mulai marak kehidupan partai politik dan organisasi massa. Mujali tertarik masuk Pemuda Rakyat. Ketertarikannya pada Pemuda Rakyat karena pada masa itu Pemuda Rakyat digolongkan sebagai organisasi pemuda yang memperjuangkan nasib orang-orang kecil. Mujali sangat senang jika digolongkan sebagai pemuda yang ikut memperjuangkan nasib orang kecil.

Beberapa hari setelah G 30 S terjadi, Mujali sempat dipanggil ke kantor polisi, ia dimasukkan ke dalam sel selama satu minggu. Setelah itu ia dibebaskan kembali. Tahun 1969, malam hari, rumahnya dikepung oleh anggota Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR). Saat itu Mujali sedang tidak ada di rumah. Ia pun luput dari penangkapan. Mujali mulai melakukan aksi “kucing-kucingan” untuk menghindari penangkapan. Karena lelah kucing-kucingan dengan petugas, akhirnya ia meminta ayahnya untuk menemui lurah desanya, dan mengatakan bahwa Mujali sudah pulang. Ia pun dijemput petugas. Mujali kemudian dibawa ke kantor kawedanan dan menjalani pemeriksaan.

Dalam pemeriksaan ia harus mengaku kenal dengan seorang yang bernama Senggrono, yang pada saat itu juga sedang diperiksa. Karena sebelumnya memang tidak mengenal, Mujali pun menolak. Petugas pemeriksa kemudian memerintahkan Senggrono untuk memukuli Mujali. Setelah selesai, giliran Mujali diperintahkan memukuli Senggrono.

Kemudian Mujali dibawa ke markas CPM Pati. Di markas CPM tersebut Mujali kembali dianiaya. Mata kirinya dipukul oleh CPM hingga mengalami pendarahan. Sampai saat ini mata kiri Mujali tak dapat digunakan (buta). Mujali menjalani penahanan selama dua tahun. Selama menjalani penahanan ia mengalami kerja paksa: memikul padi dari sawah dan menjaga gudang milik Primkopad (Primer Koperasi Angkatan Darat). Setelah dibebaskan Mujali masih harus menjalani wajib lapor ke kelurahan selama tiga bulan.

3.32 Dirmanto

3.32

Dirmanto

Pati, 21 Januari 2000

Dirmanto lahir di Pati tanggal 3 Desember 1935. Pada tahun 1960 Dirmanto diterima bekerja pada Pabrik Gula Trangkil, Pati sebagai sopir. Sebelum bekerja di Pabrik Gula Trangkil, Dirmanto pernah bekerja pada beberapa koperasi, salah satunya adalah koperasi pembuatan kapal. Di Pabrik Gula Trangkil terdapat tiga oraganisasi buruh, antara lain SBG, KBG, dan Sarbumusi. Namun dari ketiga organisasi buruh ini yang memiliki anggota paling besar adalah SBG. Anggota SBG umumnya adalah kaum buruh dari kelas menengah ke bawah, sementara staf dan pejabat pabrik umumnya tergabung adalam KBG atau Sarbumusi. Namun demikian tidak pernah terjadi konflik antarorganisasi buruh.

Dari tiga organisasi buruh tersebut Dirmanto memilih bergabung dengan SBG. Sebelum di SBG, karena kakak iparnya, Dirmanto bergabung dengan Serikat Buruh Proklamasi, yang berafiliasi pada PSI. Banyak hal yang sudah diperjuangkan SBG, antara lain ketentuan mengenai uang lembur, pakaian dinas, tunjangan kain/sandang, jatah beras. Hasil perjuangan SBG tidak hanya dinikmati oleh kaum buruh dari organisasi SBG, anggota organisasi buruh lain juga turut menikmati.

Pasca peristiwa G 30 S Dirmanto diskors dari pekerjaannya. Tidak lama kemudian, dari rumahnya, pada tanggal 18 Nopember 1965, dini hari, Dirmanto diambil oleh massa. Ijasah, SIM, dan surat penting lainnya dibakar oleh massa yang menjemputnya. Ia dibawa ke sebuah mesjid. Di depan mesjid ia dianiaya oleh massa. Oleh massa kepala Dirmanto dipukul dengan gir yang diberi rantai. Setelah dari mesjid ia dibawa ke kantor kelurahan. Sepanjang jalan menuju kantor kelurahan (yang berjarak sekitar satu setengah kilo), Dirmanto terus dipukuli oleh massa yang membawanya. Setelah dari kelurahan, ia dipindahkan ke kantor Karesidenan Pati.

Tahun 1970 Dirmanto dibuang ke Pulau Buru. Tahun 1978 Dirmanto dibebaskan. Ketika masih di Pulau Buru ia diberi kabar oleh bapaknya bahwa isterinya telah dinikahi oleh seorang polisi.

3.31 Daryono

3.31

Daryono

Pati, 5 September 2000

Daryono lahir tahun 1926 di salah satu kecamatan di Pati. Pendidikan Sekolah Rakyat. Lahir dari seorang ayah yang bekerja pada Pabrik Gula Pakis, Pati. Karena bapaknya dipecat dari pabrik, maka Daryono harus ikut serta dalam menghidupi keluarganya. Daryono menyewakan dokar untuk membantu ekonomi keluarga. Kemudian ia bekerja pada koperasi yang menjual hasil bumi dan perusahaan mebel milik saudara iparnya. Perusahaan mebel kakak iparnya pun kemudian bangkrut.

Daryono sempat menjadi anggota TNI, yang pada masa itu dikenal dengan istilah TNI Masyarakat. Ia ditugaskan di Kodim Rembang. Namun karena terjadi provokasi Madiun ia terpaksa pulang kampung dan keluar dari keanggotaan TNI untuk kemudian menikah. Mertua Daryono adalah seorang kepala desa. Sebelum meninggal dunia mertuanya berpesan agar Daryono maju bersaing untuk menjadi kepala desa. Daryono pun kemudian memberanikan diri untuk menjadi kandidat kepala desa, walaupun tidak memiliki uang untuk kampanye Kampanye yang dilakukan oleh Daryono cukup unik, ia mendatangkan seorang kepala desa dari desa lain yang pada saat itu dijabat oleh seorang perempuan. Daryono coba memainkan isu jender dalam kampanyenya. Dalam pemilihan tersebut akhirnya ia terpilih sebagai kepala desa.

Pascaperistiwa G 30 S, Daryono masih belum mengerti dengan apa yang disebut Dewan Jenderal. Ia membayangkan bahwa Dewan Jenderal sama dengan Dewan Banteng, Dewan Gajah dalam pemerintahan yang dibentuk oleh PRRI/Permesta.

Dalam pemeriksaan Daryono sempat dipukuli oleh pemeriksanya. Pemeriksaan makin kejam manakala para penghuni blok tempat ia ditahan dituduh akan melakukan pemberontakan dan merebut senjata dari petugas. Kembali Daryono dianiaya. Bahkan tubuhnya sempat dibakar dan kukunya dicabuti oleh salah satu petugas. Akibat penganiayaan tersebut, untuk makan saja Daryono harus disuapi oleh temannya yang juga tapol.

Dalam masa penahanan, beberapa kali Daryono dipindah dari kamp penahanan satu ke kamp penahanan lainnya. Daryono kerap digunakan sebagai tenaga kerja paksa, baik untuk membangun jalan, membersihkan markas tentara. Daryono juga dijadikan pelayan untuk anggota tentara tanpa menerima upah atau jatah makan.

Tahun 73 Daryono dibebaskan. Demi kelanjutan hidup anak-anak, ke empat orang anaknya ia titipkan pada saudara iparnya. Bersamaan dengan waktu, lama-kelamaan anaknya mulai tahu bahwa Daryono adalah mantan tahanan politik Orde Baru.

3.29 Sasmo Atmojo

3.29

Sasmo Atmojo

Pati, 6 September 2000

Sasmo Atmojo lahir tahun 1920 di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sasmo Atmojo tidak tahu secara persis tanggal dan bulan kelahirannya. Pendidikan Sasmo Atmojo hanya kelas 5 SR. Ia bekerja sebagai pegawai kesehatan untuk pemberantasan penyakit malaria. Ia memiliki 6 orang anak, 2 orang anaknya meninggal ketika mereka masih kecil.

Tahun 1961, ia memimpin Lekra yang baru dibentuk di kampungnya. Ia juga menjabat sebagai Dewan Harian Comite Sub Seksi (CSS), setelah sebelumnya menjadi ketua Comite Resort (CR, setingkat desa). Menurutnya, ideologi PKI sama dengan cita-citanya, yaitu membebaskan segala bentuk penindasan dan penghisapan manusia terhadap manusia yang lain.

November 1965, pada malam hari, ketika RPKAD dan massa mengadakan operasi penangkapan terhadap anggota dan simpatisan PKI di kampungnya, Sasmo Atmojo melarikan diri lewat jendela rumahnya. Ia khawatir jika tertangkap akan dibunuh, baik oleh RPKAD maupun oleh massa.

Ia sadar bahwa selama menjadi pimpinan PKI ia banyak memiliki musuh. Terutama seorang jaksa yang pernah ia remehkan kekuasaannya ketika akan menghukum anggota BTI yang melakukan aksi sepihak. Sasmo Atmojo bersembunyi di dalam hutan bersama puluhan “buronan” lainnya.

Ketika bersembunyi, Sasmo Atmojo mendengar kabar bahwa adiknya tertembak oleh RPKAD. Ia memutuskan untuk turun gunung dan menyerahkan diri. Sebelum menyerahkan diri ia menyempatkan diri melihat rumahnya yang telah rata dengan tanah karena dibakar oleh masa. Setelah menyerakan diri, Sasmo Atmojo dibawa ke kamp penahanan Baperki, Pati. Sekitar tahun 1966 Sasmo Atmojo dibawa ke Kamsing (kamp pengasingan) VIII, Pekalongan, Jawa Tengah. Selama di Kamsing VIII, Sasmo Atmojo dan tapol lainnya hanya diberi makan 150 biji jagung per hari. Tidak heran dalam satu hari ada yang meninggal dunia. Ia dapat bertahan hidup lantaran kiriman makanan dari keluarganya. Tahun 1970 Sasmo Atmojo dipindahkan ke Nusakambangan.

Selama ditahan di Kamsing, ia pernah ditahan dalam sel tikus (sel yang hanya cukup untuk satu orang dengan posisi duduk/jongkok). Ia dimasukkan dalam sel tikus lantaran ketahuan ‘menyelundupkan’ daun singkong saat dipekerjakan di luar kamp.

Tahun 1975 ia dibuang ke Pulau Buru. Tahun 1978 dibebaskan. Pengalaman di Pulau Buru: pernah dipaksa memakan ikan mentah karena memancing ikan di unit lain; dipopor senjata oleh Pleton Pengawal (Tonwal) karena tidak menolong saat Tonwal jatuh dari sepeda; dipopor senjata karena tidak dapat mencarikan daun obat sakit gigi untuk Tonwal; dipopor senjata karena ketidakmengertian Tonwal dalam sistem menanam padi.

3.28 Ranu

3.28

Ranu

Pati, 5 September 2000

Lahir tahun 1932. Pendidikan Sekolah Rakyat. Ranu bekerja pada Pabrik Gula Pakis, Pati. Ia menjadi anggota Serikat Buruh Gula (SBG) Pakis. Pabrik Gula Pakis sempat menghentikan produksinya lantaran merugi. Di Pabrik Gula Pakis SBG merupakan organisasi buruh mayoritas. 95 persen buruh pabrik adalah anggota SBG. Sedangkan sisanya adalah anggota KBG yang berafiliasi dengan PNI dan SBNU yang berafiliasi dengan Partai NU. Begitu banyak buruh yang menggabungkan diri dengan SBG karena perjuangan SBG terhadap nasib buruh amatlah konkret, terutama menyangkut peningkatan kesejahteraan kaum buruh.

Walaupun dalam pabrik terdapat organisasi buruh yang berbeda secara ideologi, namun mereka tidak pernah berselisih. SBG pernah memimpin aksi mogok untuk menuntut kesejahteraan, anggota serikat buruh yang lain juga ikut mogok. Dengan adanya organisasi buruh, maka kontrol terhadap kinerja manajemen pabrik oleh karyawan sangat ketat, sehingga sulit untuk melakukan korupsi.

Pascaperistiwa G 30 S Ranu ditangkap dan ditahan. Penangkapan mulai marak setelah datangnya RPKAD di kota Pati. Ranu dituduh akan membakar pabrik tempatnya bekerja. Ranu diinterogasi dan disiksa oleh sang interogator. Semboyan Ranu pada saat itu adalah Tiga B: Bui, Bunuh, Buang. Dari kamp penahanan Pati Ranu dibuang ke Nusakambangan. Di Nusakambangan banyak tapol yang mati karena kelaparan. Yang memakamkan jenazah tapol yang meninggal adalah para tapol, padahal kondisi fisik mereka juga sangat lemah karena kurang makan. Maka sering terjadi, seorang tapol meninggal setelah selesai memakamkan jenazah temannya.

Ketika Ranu masih dalam tahanan, isterinya mengajukan permohonan cerai, dan dikabulkan oleh Ranu. Isterinya “diambil” oleh seorang anggota PNI.

Tahun 1971 Ranu dibebaskan dari Nusakambangan. Ketika pulang ia masih diawasi oleh warga sekitar. Anaknya ingin menjadi polwan, namun ia larang. Ia khawatir statusnya sebagai seorang mantan tapol akan jadi masalah dikemudian hari.

Menurutnya, manajemen Pabrik Gula Pakis saat ini sangatlah buruk dan banyak praktek korupsi. Beda dengan ketika masih dipegang pemerintah Belanda atau masa sebelum peristiwa G 30 S. Nasib buruh sebelum Peristiwa G 30 S pun beda dengan nasib buruh pada masa sekarang.

Pada masa sebelum G 30 S ’65, disekitar pabrik banyak dilakukan aksi sepihak oleh para BTI. Aksi sepihak umumnya berhasil, dan tanah hasil aksi sepihak kemudian dibagi-bagikan kepada petani miskin. Setelah Peristiwa 65, tidak hanya buruh yang tergabung dalam SBG, buruh yang bernaung dalam KBG dan IBNU juga dipecat.