3.50 Budiyani

3.50

Budiyani

Purwodadi, 30 Agustus 2000

Budiyani lahir pada 1942. Ia menikah dengan seorang anggota Barisan Tani Indonesia (BTI). Mereka dikaruniai empat orang anak.

Karena keterlibatan dalam BTI suaminya ditahan selama enam tahun. Budiyani mengaku tidak tahu-menahu mengenai aktivitas suaminya di BTI. Waktu penangkapan, suaminya mengatakan akan rapat. Sesudah itu suaminya tidak pulang. Tenyata suaminya ditahan. Suaminya ditahan secara berpindah-pindah: di Purwokerto, Ambarawa dan Purwodadi.

Akibat penangkapan suaminya, hidup Budiyani menjadi lebih susah lagi. Untuk mengurangi beban hidup, anaknya yang paling kecil ia titipkan ke salah seorang saudaranya. Ia hidup bersama tiga anaknya yang lain. Itu pun masih terasa berat. Karena beratnya beban hidup, Budiyani sempat melakukan upaya bunuh diri. Anak-anaknya pun sering diejek: “Anak PKI”.

3.49 Kustini

3.49

Kustini

Purwodadi, 30 Agustus 2000

Kustini lahir di Wirosari, Purwodadi, tanggal 10 Oktober 1929. Ia berasal dari keluarga petani. Pada masa revolusi ia bergabung dengan Palang Merah Indonesia. Tamat Sekolah Pendidikan Guru ia kemudian mengajar. Selain mengajar ia juga aktif dalam Gerwani. Jabatannya adalah ketua anak cabang Gerwani. Kustini menikah pada tahun 1948. Suaminya adalah mantan pejuang dari kesatuan Ronggolawe, dengan pangkat terakhir sersan. Setelah tidak lagi aktif di ketentaraan, suaminya aktif di Pemuda Rakyat (PR). Dari perkawinan mereka lahir empat orang anak.

Pascaperistiwa G 30 S, tepatnya tanggal 11 November 1965, Kustini dan suaminya dinyatakan terkait dengan Peristiwa G 30 S. Mereka kemudian ditahan. Mereka dibawa ke Semarang dan kemudian ke Ambarawa. Sampai di Penjara Ambarawa, Kustini tidak tahu lagi keberadaan suaminya. Kustini mengalami penganiayaan saat diperiksa. Kustini nyaris dieksekusi, beruntung mobil yang mengangkut para tahanan tidak cukup mengangkut jumlah tapol yang akan dieksekusi mati. Ia dan sembilan tapol lainnya luput dari proses eksekusi mati. Dari Penjara Ambarawa Kustini dikirim ke kamp Pelantungan. Kamp tahanan khusus perempuan.

Tahun 1966, Kustini mendapat informasi dari seorang polisi yang sempat mengikuti proses eksekusi para tapol. Polisi tersebut mengatakan bahwa suami Kustini sudah meninggal. Di Pelantungan ia dan tapol lainnya sempat mendapat kunjungan dari HJC. Princen dan tokoh atau badan-badan luar negeri lainnya. Kustini sempat diwawancarai dan ia pun menceritakan apa saja yang pernah ia alami. Selama dalam tahanan, ia dan tapol lainnya sering diminta membantu masyarakat, antara lain memperbaiki sungai, jalanan, dan lain-lain.

Tahun 1978, Kustini bebas. Ia kembali ke Purwodadi. Untuk biaya hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, kustini menerima jahit baju dan rias pengantin. Salah seorang anaknyapun behasil menjadi pegawai negeri sipil.

3.46 Sarjono

3.46

Sarjono

Purwodadi, 2000

Lahir pada 1942. Pendidikan hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakyat. Tidak dapat melanjutkan ke SLTP karena orang tua miskin. Ketika remaja ia tertarik dengan Pemuda Rakyat (PR). Di kampungnya, ia pun bergabung dengan organisasi tersebut.

Ia baru tahu ada peristiwa G 30 S setelah ia diminta untuk datang ke kantor kecamatan. Itu terjadi pada bulan November 1965. Dari kantor kecamatan ia dibawa ke kantor polisi. Beberapa kali ia mengalami pemindahan tempat penahanan, termasuk di bekas kandang babi. Jatah makan selama di penjara sangat minim sekali. Sering kali nasi yang disuguhkan sudah bau dan bercampur dengan batu krikil. Setelah beberapa kali mengalami pemindahan tempat penahanan, Sarjono dikirim ke Nusakambangan. Di Nusakambangan Sarjono menempati Blok Batu. Perlakuan petugas di Nusakambangan sangat semena-mena. Memperlakukan tapol tak lebih seperti memperlakukan binatang. Jika apel, cara menghitungnya adalah dipukul satu per satu. Tidak hanya petugas penjara narapidana kriminalpun diberikan otoritas yang luar biasa terhadap para tapol. Napi sama ganasnya dengan petugas penjara. Jatah makan adalah gaplek dengan frekuensi makan tiga kali sehari. Kadang gaplek digantikan dengan gerontol (jagung pipilan). Untuk dapat bertahan hidup tapol harus memakan sesuatu yang sebenarnya bukan makanan, bonggol pisang salah satunya.

Banyak tapol menemui ajal karena kelaparan. Pemakaman dilakukan oleh tapol sendiri. Karena kondisi tapol lemah dan tidak adanya fasilitas untuk memakamkan jenazah, proses pemakaman pun dilakukan degnan tidak sebagaimana mestinya. Penghuni sel jauh melebihi kapasitas sel itu sendiri. Karena terlalu sempit, jika tidur para tapol harus bergantian

Tahun 1969 Sarjono dibuang ke Pulau Buru. Ia menempati Unit Sepuluh. Jatah makan di Pulau Buru sangat minim dan hanya untuk beberapa bulan ke depan. Sementara para tapol tidak tahu sampai kapan mereka dibuang di Pulau itu. Dengan fasilitas yang minim dan di bawah tekanan tentara, tapol mampu menyulap padang rumput menjadi lahan pertanian yang subur.

Di Pulau Buru ia mengalami perstiwa terbunuhnya petugas pengawal oleh tapol, dan empat orang tapol dibunuh oleh penduduk asli Pulau Buru. Ketika masih dalam penahan di Pulau Buru, ia mendapat surat permintaan cerai dari istrinya. Ia pun mengabulkan permintaan tersebut.

Ketika Sarjono bebas, bekas istrinya datang bersama suaminya. Suami dari bekas istrinya bermaksud menyerahkan kembali istrinya kepada Sayono. Sayono menolak. Pertimbangannya, mereka telah menikah secara resmi. Sarjono hanya berpesan agar bekas istrinya diperlakukan secara baik.

3.45 Mislan

3.45

Mislan

Purwodadi, 20 Agustus 2000

Lahir pada 1929. Pendidikan hanya sampai SR tiga tahun. Tamat SR ia menjadi penggembala kerbau. Tahun 1953 menikah dan dikaruniail ima orang anak. Tahun 1955, ketika partai politik mulai marak di Indonesia, Mislan sudah tertarik dengan PKI. Kemudian ia masuk ke dalam organisasi BTI. Di BTI ia menjadi pengurus organisasi BTI di tingkat kecamatan. Tahun 1963 ia sudah tidak lagi menjadi fungsionaris organisasi BTI.

Tahun 1965, pascaperistiwa G 30 S Mislan ditangkap karena keterlibatannya dalam BTI. Setelah diperiksa dan ditahan selama tiga bulan, Mislan akhirnya dilepaskan. Walaupun ia sudah bebas namun ia tidak memperoleh kebebasan sepenuhnya. Sebab ia harus melakukan kerja paksa. Ia dipaksa membangun jalan atau membangun desa tanpa menerima upah.

Selama masih ditahan jatah makan sangat minim. Untuk bertahan hidup ia mengandalkan makanan kiriman keluarganya atau pemberian dari teman-temannya sesama tapol.

Tahun 1968 Mislan kembali ditangkap. Ia dituduh dengan tuduhan yang sama sekali tidak ia mengerti. Dalam pemeriksaan ia mengalami penyetruman dan pemukulan. Karena tidak kuat dengan siksaan akhirnya ia mengakui tuduhan tim pemeriksa Dalam penahanan kedua ia ditahan di kamp Kuwu dan Kamp Keradenan yang dikenal sebagai kamp pembantaian. Tiap malam banyak tapol yang dipanggil dan tak pernah kembali. Jika yang dipanggil malam biasanya dengan mata tertutup dan tangan terikat.

Pada penahanan kedua, Mislan dibebaskan tahun 1971. Ia luput dari pembuangan ke Pulau Buru.

Ketika bebas untuk kedua kalinya, di kampungnya Mislan merasa terintimidasi dan terteror. Ia memutuskan untuk pergi dan mencari nafkah di Semarang. Anak isteri terpaksa ia tinggalkan. Sampai saat ini anak-anak Mislan masih mengalami trauma. Mereka tidak ingin peristiwa masa lalu kembali terulang. Untuk itu mereka melarang Mislan aktif dalam organisasi korban ’65.

3.43 Hardi

3.43

Hardi

28 Agustus 2000

Hardi lahir di Mlowokarang, Purwodadi sekitar tahun 1937. Hardi tidak tahu tanggal dan bulan kelahirannya, sebab dokumen-dokumen pribadinya dibakar oleh petugas dan massa yang menangkapnya. Tingkat pendidikan Hardi hanya sampai SR. Pekerjaan petani. Tahun 1959 Hardi menjadi anggota BTI. Pilihan masuk BTI semata-mata karena profesinya sebagai petani. Kegiatan Hardi selama di BTI adalah gotong royong membangun rumah warga secara bergiliran.

Bulan November 1965, ketika sedang makan, tiba-tiba tiga orang polisi dan sejumlah massa datang ke rumahnya. Massa terdiri dari pimpinan ranting Pemuda Marhaenis dan anggota Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR). Hardi dibawa ke kantor Camat Panunggalan. Sore hari, tanggal 11 November 1965 Hardi ditahan di bekas kantor Baperki Beberapa kali Hardi mengalami pemindahan tempat penahanan, kamp bekas kandang babi salah satunya. Ia juga pernah ditahan di rumah milik orang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan tempat penahanan.

Hardi dituduh memiliki senjata api dan mempunyai tiga buah lubang di sebelah rumahnya. Oleh petugas, tiga lubang tersebut dianalogikan sebagai Lobang Buaya. Lokasi di mana 6 jenderal dan satu orang perwira menengah dibunuh dalam Peristiwa G 30 S.

Kamp penampungan Hardi bersebelahan dengan kamp penahanan untuk tapol perempuan. Tiap malam ia melihat beberapa tahanan perempuan yang ia kenal “dibon”. Biasanya mereka dikembalikan ke selnya pada dinihari. Tahun 1966 Hardi dipindah ke Nusakambangan. Di Penjara Nuskambangan Hardi mendengar kabar bahwa tapol perempuan tersebut hamil dan melahirkan di kamp. Kepindahan Hardi ke Nusakambangan adalah strategi dari petugas pemeriksa – yang merupakan teman Hardi – untuk menghindari Hardi dari pembunuhan di kamp penampungan.

Di Nusakambangan jatah makan hanya jagung pipilan yang jumlahnya sekitar 36 biji. Jika jagung habis maka jatah makan tapol menjadi bulgur atau gaplek yang sudah menjadi bubuk. Untuk bertahan hidup tapol makan buah karet, ampas kelapa, kulit pisang. Banyak tapol yang akhirnya mati karena busung lapar dan beri-beri. Pernah satu kali tapol dipukul hingga mati karena ketahuan mengais makanan di tempat sampah saat dipekerjakan di luar tahanan.

Di Nusakambangan Hardi masuk dalam kelompok pemakaman. Dalam sehari ia bisa tiga kali memakamkan. Sekali memakamkan bisa tiga sampai lima jenazah temannya. Kedalaman makam tidak lebih dari selutut dan jenazah-jenazah itu dimakamkan dalam satu lubang yang sama. Hal ini disebabkan para tapol yang bertugas memakamkan tidak memiliki tenaga untuk menggali lubang lebih banyak dan lebih dalam lagi.

Bulan Agustus tahun 1969 Hardi dibuang ke Pulau Buru. Di Pulau Buru ia kerap memergoki petugas mencuri kayu hasil kerja para tapol. Bukan hanya kayu, ternak peliharaan tapol pun kerap diambil paksa oleh para petugas.

Tahun 1979 Hardi bebas. Ketika tiba di rumah, adiknya bercerita bahwa sejak Hardi ditahan istrinya kerap ditiduri oleh banyak orang. Hari ini diminta melayani tentara, besoknya giliran kepala desa, lusa ketua RT, hari berikutnya Pemuda Ansor, hari berikutnya lagi pemuda Marhaenis. Begitu seterusnya, hingga tahun 1977. Istri Hardi meninggal karena depresi. Pernah satu ketika, setelah membantai anggota dan simpatisan PKI, seorang Pemuda Ansor datang dan bermalam di rumah Hardi dengan baju dan samurai berlumur darah.

3.42 Sudikem

3.42

Sudikem

Purwodadi, 28 Agustus 2000

Sudikem lahir pada 1943. Orangtuanya adalah pedagang sapi. Belum sempat menyelesaikan SR ia dijodohkan oleh orangtuanya. Hanya delapan bulan usia pernikahan tersebut. Mereka bercerai.

Tahun 1960 Ia menikah dengan seorang guru dan juga Kepala Sekolah SD Liran. Tahun 1965,Yahya, suaminya menjalani studi persamaan di Demak. Ia tidak tahu secara persis tentang kegiatan suaminya. Tiba-tiba ia memperoleh kabar bahwa suaminya dinyatakan terlibat dalam G 30 S. Suaminya ditangkap aparat dan dibawa ke kamp penahanan Baperki. Ketika ditangkap mereka sudah memiliki dua orang anak yang masih kecil.

Satu bulan berikutnya Yahya dipindah ke daerah Getak. Ia ditahan di sebuah gudang milik keluarga Tionghoa yang dijadikan tempat penahanan oleh aparat keamanan. Tiga bulan kemudian Yahya dibebaskan. Ia memilih bertani, sebab sudah tidak lagi menjadi guru. Sejak Yahya ditahan, gaji sebagai guru tidak lagi ia terima.

Kehadiran Yahya di tengah-tengah keluarga ternyata tidak berlangsung lama, Tahun 1968 kembali terjadi penangkapan terhadap mereka yang dituduh anggota atau simpatisan PKI. Yahya kembali ditangkap. Ia dibawa ke kamp Kuwu. Dalam kamp Kuwu, Yahya hanya bertahan satu bulan. Ia meninggal dunia dalam kamp tersebut. Menurut kesaksiaan beberapa orang tapol, Yahya meninggal dunia karena mengalami siksaan berat. Ia kerap disetrum dan diinjak-injak.

Menurut Sudikem, latarbelakang penangkapan suaminya tahun 1968 adalah persoalan pribadi. Seseorang bernama Nyaman menyukai Sudikem. Nyaman meminta Sudikem meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Nyaman mengancam, jika Sudikem menolak, suaminya akan ditangkap dan ditahan. Sudikem menolak, ia tak bergeming dengan ancaman nyaman.

Akibat kejadian tersebut, keluarga Sudikem sempat mengalami diskriminasi. Anak-anaknya sempat kesulitan mencari surat keterangan dari kelurahan.

3.41 Mamuji

3.41

Mamuji

Purwodadi, 2 September 2000

Mamuji lahir di desa Jambon, Kecamatan Bulu Wetan, Purwodadi – Grobogan, tanggal 29 September 1929. Ia adalah anak tunggal. Orangtuanya adalah penjual daging. Tahun 1952 tamat pndidikan SMA. Sejak SMA ia sudah aktif di Pemuda Rakyat,terutama dalam program pembagian tanah untuk masyarakat. Umumnya guru-guru yang mengajar di sekolahnya adalah aktivis PKI. Hal inilah yang membuat Mamuji tertarik untuk berorganisasi. Tamat sekolah ia menjadi guru. Tahun 1963 ia menikah dan dikaruniai tiga anak laki-laki.

Setelah Peristiwa G-30-S, ia mendapat penggilan dari lurah untuk menghadap ke kantor kecamatan. Setelah melapor ia kemudin ditahan. Dengan membayar Rp. 75.000 kepada petugas, ia kemudian dibebaskan. Kendati bebas, ia kerap dipaksa oleh aparat desa untuk melakukan “kerja bakti” Setelah tiga bulan berada di luar kamp penahanan. Mamuji kembali ditangkap dan ditahan. Ia dituduh menyimpan senjata dari RRT, mengadakan latihan perang dan membuat rencana untuk merobohkan pemerintahan yang ada.

Ia mendapat penyiksaan yang paling berat saat ditahan di kamp Panunggalan. Di sana tapol pria dan wanita ditelanjangi, distrum alat vitalnya, dipukul. Selain kekerasan fisik, ia yakin terjadi pemerkosaan terhadap tahanan wanita. Beberapa kali ia mengalami pemindahan tempat penahanan. Antara lain, Semarang, Salatiga, Ambarawa, Purwodadi. Menurutnya, di kamp penahanan Monggot dan Kuwu (Purwodadi), setiap hari, sekitar 40 orang tapol dibunuh. Ia mengetahui hal ini. Sebab, sekalipun ia tapol, ia pernah dilibatkan menjadi anggota tim skrining.

Pada masa ia ditahan, ada istilah nyokot (menggigit) teman. Artinya seseorang menyebut temannya atau siapa saja terlibat dengan PKI atau dalam G 30 S. Semakin banyak nama yang dicokot, semakin ringan pula aniaya atau hukuman yang diterima orang tersebut. Hal ini yang dilakukan Maruji. Dalam pemeriksaan, Maruji menyebutkan siapa saja nama-nama yang ia kenal. Cara ini ia lakukan untuk menghindari hukuman atau penganiayaan yang lebih berat lagi. Toh, petugas tidak akan melakukan cross check informasi. Yang dibutuhkan petugas adalah nama-nama orang kampung yang dapat diambil. Apakah mereka terlibat PKI atau G 3o S, itu soal lain yang tidak penting.

Di dalam tahanan ia mendapat kabar bahwa isterinya meninggal dunia karena tertabrak kereta api. Akan tetapi, pada saat memperoleh “cuti” hari raya, Mamuji.baru tahu bahwa isterinya telah menikah lagi dengan laki-laki lain. Ia hanya berfikir tentang kelanjutan hidup tiga orang anaknya.

Setelah dibebaskan Maruji menikah kembali dengan seorang gadis yang pernah ia jumpai saat mendekam di Kamp Gubuk. Namun pernikahannya hanya berumur tiga bulan. Mereka bercerai karena perbedaan agama. Mamuji kembali menikah dan dikaruniai satu orang anak laki-laki. Tekadnya saat itu adalah membesarkan dan mendidik anak-anaknya.