3.59 Sulistiyowati

3.59

Sulistiyowati

Rembang, 9 September 2000

Lahir pada 1935. Pendidikan hanya kelas tiga Sekolah Rakyat (SR). Tamat SR ia mengikuti kursus keterampilan. Termasuk kursus Materialisme Dialektika Dan Historis. Disamping itu, Sulistiyowati juga aktif dalam kegiatan Gerwani. Di organisasi ia aktif dalam program pemberantasan buta huruf. Tahun 1948 ia menikah. Suaminya seorang guru sekolah dasar. Karena di desanya kekurangan gedung sekolah, maka rumahnya dijadikan sekolah.

Pada Oktober 1965, pascaperistiwa G 30 S suami Sulistiyowati ditangkap. Ia dibawa ke kantor lurah. Sampai di sana ia dianiaya. Salah seorang penganiayanya adalah bekas muridnya. Kemudian suaminya dibawa ke kantor polisi untuk ditahan. Sulistiyowatipun sempat ditahan, namun karena orangtuanya memberikan sejumlah uang kepada petugas, Sulistiyopun dibebaskan. Ketika masih ditahan, rumah Sulistiyowati disatroni dan diacak-acak oleh anggota Ansor. Seisi rumah dihancurkan. Sebagian lagi dicuri.

Ia sempat menjenguk suaminya di kantor polisi dan Penjara Rembang. Namun bulan Januari 1966 suaminya sudah tidak ada lagi, suaminya hilang dari penjara. Ia mencari ke beberapa tempat penahan yang ada di Rembang, termasuk markas (Corp Polisi Militer) CPM, namun suaminya tidak pernah ia temukan. Pencarianpun ia lanjutkan ke kota lain, hingga ke Jawa Timur. Jika malam tiba tak segan ia tidur di emper toko pasar. Ia pun harus naik turun truk. Ia pernah dipaksa turun dari truk, sebab pemilik truk tahu bahwa ia bekas anggota Gerwani.

Dalam usaha mencari suaminya media dukunpun ia gunakan, sekalipun dukun tersebut berada di luar kota. Satu kali, ketika ia mencari suaminya di Pekalongan, rumahnya dibobol oleh pencuri. Mesin jahit dan barang berharga lainnya hilang dibawa pencuri. Ia menemukan dompet yang berisikan kartu identitas milik seseorang. Ia menduga dompet tersebut milik orang yang mencuri di rumahnya. Ia pun lapor pada polisi setempat. Sampai di kantor polisi ia justru dipukuli hingga babak belur oleh dua orang polisi. Ia dituduh akan mencemarkan nama baik organisasi pemiliki dompet yang kebetulan berasal dari organisasi Ansor.

Sejak 1999 Sulistiyowati sudah tidak lagi mencari suaminya. Pekerjaan Sulistiyowati saat ini adalah memecahkan batu kali yang besar hingga menjadi batu kerikil. Jika dijual tentu harganya tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang ia keluarkan.

3.58 Purwanto

3.58

Purwanto

Rembang, 9 September 2000

Lahir pada 3 September 1940. Bekerja di Dinas Kesehatan Rumah Sakit. Ia bergabung dengan Serikat Buruh Kesehatan. Ia juga aktif di Pemuda Rakyat, dengan jabatan sekretaris Pemuda Rakyat Kecamatan Seluke yang membawahi 14 desa. Selain itu ia juga sebagai komandan regu dalam Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR).

Pascaperistiwa G 30 S rumah Purwanto digeledah oleh petugas. Saat itu ia sedang dinas. Mengetahui dirinya dicari oleh petugas dan merasa bertanggungjawab atas nasib teman-temannya yang sudah dibawa di kantor polisi, ia pun melaporkan diri ke polisi. Pada 9 November 1965, beberapa saat setelah lapor diri tersebut, ia langsung dibawa ke Penjara Rembang. Bersamaan dengan masuk penjara, datang surat pemecatan dari instansi tempatnya bekerja. Ia dituduh menyimpan senjata api. Padahal senjata-senjata yang ia gunakan untuk latihan kemiliteran selalu ia kembalikan ke Korem setelah latihan selesai. Petugas menyita dokumen PR dan OPR yang ia miliki. Selama tiga bulan di Penjara Rembang, setiap hari ia hanya makan 65 butir jagung yang disediakan pihak penjara. Setelah itu baru ada kebijakan penjara bahwa tapol boleh dibesuk dan dikirimi makanan oleh keluarga.

Saat ditahan, Purwanto dudah memiliki dua orang anak. Anak slungnya berusia empat tahun dan yang besar kurang dari satu tahun. Istri dan anak Purwanto sempat dibawa ke kantor polisi, namun dilepaskan dan harus menjalani wajib lapor. Selama dalam masa penahanan Purwanto dan tapol lainnya kerap dimanfaatkan untuk kerja paksa. Antara lain membangun jalan sepanjang 35 kilometer, menambang batu bara, membangun instalasi militer, menebang kayu dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga komandan militer.

Ketika Purwanto didalam tahanan istri dan orang tuanya kerap mendapat teror dan intimidasi dari berbagai pihak. Bahkan istrinya diancam akan dimasukkan ke penjara jika tidak memberikan sejumlah uang. Dengan terpaksa orang tuanya memberikan uang kepada pengancam.

Pada 1969 Purwanto dikirim ke Pulau Buru, setelah sebelumnya ia singgah di Nusakambangan. Sampai di Pulau Buru, untuk sampai ke unit tempatnya ditahan, ia harus melewati semak belukar dan padang ilalang yang tingginya melebihi tinggi badannya. Perjalanan ditempuh dalam waktu satu hari satu malam. Sampai di unit para tapol harus menebang belukar dan membabat rumput dengan tangan, tanpa alat bantu. Para tapol hanya diberi makan 500 gram nasi perhari, sementara mereka harus bekerja keras membuka lahan persawahan. Kadang para tapol diperintahkan menggergaji pohon untuk dibuat kayu dan diserahkan ke Markas Komando tanpa tahu untuk kepentingan apa kayu itu.

Karena begitu banyak tapol yang sakit sementara persediaan obat dari pemerinta sangat terbatas, maka tapol melakukan pengobatan alternatif kepada yang sakit. Disamping itu, yang memliki kemampuan pengobatan alternatif memberikan ilmunya kepada tapol yang lain agar lebih banyak tapol yang dapat memberikan pelayanan kepada tapol yang sakit.

Pada 1979 Purwanto dibebaskan. Untuk menafkahi keluarga awalnya ia membuka usaha penggergajian kayu. Namun karena banyaknya orang sakit yang datang dan minta disembuhkan dengan akupuntur, ia pun meninggalkan usaha penggergajian kayu dan menekuni pengobatan akupuntur yang ia peroleh di Pulau Buru. Purwanto tidak pernah menentukan tarif atas jasanya.

3.57 Mansur

3.57

Mansur

Rembang, 8 September 2000

Lahir pada 1925. Pendidikan Sekolah Rakyat lima tahun. Lahir dan besar dalam keluarga dengan latar belakang agama yang kuat. Ayahnya adalah anggota Syarikat Islam. Saat Masyumi belum dibubarkan ia sendiri adalah anggota Masyumi.

Pada masa revolusi aktif bergabung dalam Laskar Rakyat dan kemudian menjadi anggota Angkatan Laut. Pada masa agresi kedua Belanda, oleh ayahnya Mansur tidak diperbolehkan lagi menjadi tentara. Kemudian ayahnya menyarankan Mansur untuk mendaftarkan diri menjadi Jemaah Haji. Bukannya mendaftar untuk menjadi Jemaah Haji, Mansur malah bergabung dengan kelompok seni ketoprak. Dalam pentas ketoprak, Mansur kerap mengkombinasikan antara pesan agama dan seni ketoprak.

Pascaperistiwa G 30 S Mansur ditangkap dan ditahan karena keterlibatannya dalam Bakoksi dan Lekra. Sebelum ditangkap pada bulan November 1965, Mansur banyak menyaksikan aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama dan nasionalis terhadap mereka yang dituduh komunis. Rumah Mansur pun menjadi sasaran amuk massa. Massa semakin brutal setelah RPKAD masuk kota Rembang. Bersama RPKAD seolah massa memperoleh kepercayaan diri yang amat tinggi.

Untuk membakar emosi massa, di daerah Lasem dan Rembang banyak terdapat plakat-plakat berasal dari tentara yang memberikan informasi mengenai peristiwa G 30 S. Massa kerap mengambil tapol dari dalam penjara untuk kemudian mereka eksekusi. Saat pemanggilan tapol pada malam hari, nama Mansur sebenarnya dipanggil. Namun orang lain yang memiliki nama sama yang menghadap petugas. Rupanya panggilan tersebut salah alamat, Mansur pun selamat dari pembunuhan di dalam kamp.

Ketika Mansur di dalam tahanan, istrinya dikabari oleh tetangga bahwa Mansur telah tewas dibunuh. Istrinya shock, lalu meninggal dunia. Pada 1969 Mansur akhirnya dibuang ke Pulau Buru setelah sebelumnya transit di Nusakambangan selama beberapa bulan. Di Nusakambangan banyak tapol yang mati karena kelaparan. Meski selamat, Mansur mengalami pelaparan yang hebat di Nusakambangan. Badannya amat kurus. Naik turun tanggapun harus pegangan dan merangkak. Sebab sudah tidak kuat lagi untuk berdiri, apalagi berjalan. Di Pulau Buru Mansur menempati Unit Satu.

Pada Desember 1979 Mansur pulang dari Pulau Buru. Kini Mansur telah menikah kembali tanpa halangan apapun walau dia adalah bekas tapol.

3.56 Kasmin

3.56

Kasmin

Rembang, 8 September 2000

Lahir sekitar 12 Maret 1939, di Kota Lasem. Sejak kecil ayahnya sudah meninggal dunia. Ibunya bekerja sebagai buruh. Kasmin dibesarkan dalam keluarga kakek neneknya yang miskin. Pendidikan Kasmin SGB empat tahun. Dengan masuk SGB orangtuanya tidak perlu mengeluarkan biaya sekolah, sebab SGB menerapkan sistem ikatan dinas. Pada 1958 Kasmin tamat SGB dan pada Januari 1959 ia sudah mulai mengajar Sekolah Dasar di sebuah desa yang terletak di daerah pegunungan. Pada masa itu kehidupan seorang guru sangat sulit. Gajinya sangat tidak cukup untuk membiayai hidup, maka banyak guru yang menyambi pekerjaan lain selain mengajar.

Pada masa pemilu pertama banyak partai yang berlomba-lomba melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Semua partai yang berbeda ideologi hidup rukun berdampingan. Dahulu juga terdapat wadah perjuangan Front Nasional yang merangkul semua unsur partai dan golongan yang ada. Dari partai yang ada Kasmin tertarik pada PKI. Menurutnya, perjuangan PKI adalah menolong rakyat yang tertindas dan terampas haknya. Dalam struktur PKI Kasmin menjadi sekretaris CSS PKI.

Pasca peritiwa G 30 S situasi berubah. Banyak terjadi penangkapan terhadap mereka yang dituduh terlibat G 30 S atau menjadi anggota serta simpatisan PKI. Pada 9 November 1965 Kamin ditangkap, dan dipecat secara tidak hormat dari dinas sebagai guru. Dalam penjara ia merasa lebih tenang, sebab di luar penjara sudah banyak aksi penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Islam. Di penjara ia menyaksikan setiap orang yang keluar dari ruang pemeriksaan selalu penuh dengan luka bekas penganiayaan. Bahkan ada satu petugas polisi yang hobi menggigit kuping tapol yang sedang diperiksa.Selama masa penahanan Kasmin mengalami kerja paksa untuk membangun jalan, membersihkan kantor CPM, menambang batubara dan lain-lain tanpa imbalan satu sen pun. Untuk makan saja ia harus mengandalkan kiriman dari keluarga di rumah.

Sekitar tanggal 9 Agustus 1970, bersama ratusan tapol lainnya, Kasmin dibuang ke Pulau Buru. Sebelum ke Pulau Buru, sekitar 40-50 hari sebelumnya, ia ‘transit’ dahulu di Nusakambangan. Di Nusakambangan ia menempati Blok Limusbuntu. Sementara di Pulau Buru ia menempati Unit Enam. Setiba di Pulau Buru para tapol harus mencabuti ilalang yang tingginya sama dengan manusia dewasa, dan unit tertutup oleh ilalang tersebut. Tahun-tahun pertama datang di Pulau Buru adalah masa sulit bagi para tapol. Banyak tapol yang kekurangan makan, untuk itu terpaksa mereka memakan sesuatu yang sebenarnya bukan untuk dimakan. Minimnya makanan dan kerasnya siksaan, mendorong beberapa tapol melarikan diri. Sekalipun mereka tertangkap kembali dan harus menerima siksaan yang lebih berat lagi.

Tahun 1977 mulai ada pembebasan, khususnya bagi mereka yang mengidap sakit berat dan lanjut usia. Tanggal 18 Desember 1978 Kasmin dan beberapa tapol lainnya dibebaskan. Setelah bebas Kasmin harus menerima Santiaji. Dan ia pun harus mendapat ijin dari pemerintahan desa jika akan pergi ke luar kota.