5.37 Tusimo

5.37

Tusimo

Surabaya

Tusimo cukup mengenal tokoh-tokoh PKI seperti Aidit, Nyoto dan Sudisman. Setelah gelombang huru-hara 65 ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru. Tusimo dalam gelombang pertama pengiriman tapol ke Pulau Buru.

Menurutnya, pada masa-masa awal pembuangan tapol ke Pulau Buru, Unit Satu diisi oleh orang-orang intelek seperti fungsionaris partai, anggota DPR/MPR. Unit Dua diisi oleh kalangan terpelajar seperti mahasiswa dan sarjana. Sedangkan Unit Tiga banyak diisi oleh kalangan buruh dan tani.

Selama di Pulau Buru Tusimo banyak bergaul dengan penduduk lokal. Untuk dapat bertahan hidup ia pernah membuka praktek sebagai dukun. Kemudian, bersama Pramoedya Ananta Toer dan beberapa tapol lain terlibat mengorek keterangan mengenai sejumlah perempuan Jawa yang pernah dijadikan budak sesksual tentara Jepang (jugun ianfu) pada masa Perang Dunia Kedua.

Oleh petugas keamanan Pulau Buru, ia dipercaya sebagai penjaga gudang logistik untuk unit-unit. Menurutnya, di Pulau Buru sempat terjadi ketegangan yang disebabkan pro kontra boleh tidaknya tapol menikah di Pulau Buru. Tusimo ada di barisan yang mendukung diperbolehkannya tapol menikah di Pulau Buru.

Menjelang akhir masa penahanannya, Tusimo kerap bergaul dengan transmigran. Awalnya para transmigran memiliki persepsi yang negatif terhadap para tapol. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu persepsi itupun mulai berubah. Mereka tahu persis bahwa tapol tidak sejahat yang ia bayangkan dan seperti yang diceritakan aparat keamanan.

Tusimo dibebaskan pada 1979. Pada era reformasi ia aktif di organisasi Yayasan Penyelidikan Korban Pembantaian 65 (YPKP). Namun karena perbedaan pandangan soal penggalian tempat-tempat pembantaian dan soal pertanggungjawaban keuangan organisasi, ia memutuskan untuk tidak aktif di organisasi tersebut.

Saat ini, kendati sudah tidak aktif dalam YPKP, ia masih tetap menjalin komunikasi dengan para eks tapol lainnya. Bahkan bersama mantan tapol lain mereka sempat mengadakan pentas wayang di Surabaya dengan Dalang Tristuti. Dalang yang juga mantan tapol.

5.29 Asiong

5.29

Asiong

Surabaya, 13 Juli, 29 Desember 2000

Asiong dilahirkan sekitar tahun 1930 di Malang, Jawa Timur. Ayahnya seorang Cina totok yang menikah dengan gadis Jawa. Ayahnya juga termasuk salah satu tokoh pergerakan Indonesia. Salah satu peran yang dimainkan ayahnya adalah mengadaptasikan Revolusi Tani yang terjadi di Tiongkok dengan gerakan kiri di Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang ayahnyapun memainkan peran yang cukup penting dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan. Ayahnya terlibat dalam gerakan “bawah tanah” melawan Jepang, antara lain menyembunyikan buronan tentara Jepang.

Asiong sempat mengenyam pendidikan di sekolah Tionghoa. Namun pada masa pendudukan Jepang sekolah ini ditutup. Pada era revolusi kemerdekaan Asiong bergabung dengan organisasi Tionghoa di Palang Biru. Pada masa itu warga keturunan Tionghoa dan “pribumi” bahu membahu mempertahankan kemerdekaan. Pada 1949, setelah revolusi fisik mulai mereda, Asiong melanjutkan pendidikan SMA di Sekolah Harapan Kita dan melanjutkan kuliah di Universitas Respublika. Asiong bergabung dalam organisasi Baperki.

Pasca G 30 S Asiong ditangkap dan ditahan. Ia sempat ditahan di Koblen, Kalisosok, Nusakambangan dan Pulau Buru. Selama menjalani penahanan ia kerap mengalami dan menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh para petugas. Banyak tapol yang “dibon” dan tidak pernah kembali lagi.

Di Pulau Buru ia mendekam di Unit II. Di Pulau Buru ada beberapa tapol yang mencoba melarikan diri ke Australia. Aksi ini mereka lakukan di tengah-tengah konflik antara satuan Pattimura (Ambon) dengan Satuan Hasannudin (Makassar). Perselisihan dipicu oleh “rebutan” menjual kayu hasil jerih payah para tapol. Namun yang terekspos justru hanya tapol yang melarikan diri dan kemudian terangkap lalu dibunuh.

Pada 1978 Asiong dibebaskan. Ia kembali ke Malang dalam pengawasan ketat dari tentara. Ia tidak bisa bekerja karena status eks-tapolnya. Ia kemudian menikah sekitar tahun 1980 dan dikaruniai dua anak.

Asiong berharap, di era reformasi ada penuntasan kasus 65. Dimana dapat dilakukan pengungkapan kebenaran, pengadilan, rehabilitasi, dan kompensasi. Untuk kompensasi, ia mengharapkan anak-anaknya bisa mendapatkan tunjangan pendidikan atau beasiswa. Sebab usianya sudah lanjut, sedangkan anak-anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan yang tidak sedikit.

5.28 Jatiman

5.28

Jatiman

Surabaya, 16 Juli 2000

Jatiman lahir pada 1935 di salah satu desa di Jawa Timur. Pada saat Jatiman berusia lima tahun, ayahnya meninggal. Ia dengan empat saudara kandungnya, hidup dalam kondisi kekurangan. Ibunya mencari nafkah di Surabaya. Jatiman tinggal menumpang di sebuah keluarga. Di keluarga itu Jatiman menjalani hidup yang cukup keras. Sehari-hari Jatiman bekerja sebagai penggembala kerbau. Setelah tamat SD, ibunya membawa Jatiman ke Surabaya.

Pada 1958, Jatiman bekerja di Rumah Tahanan Kalisosok. Agar karirnya meningkat, ia mengambil pendidikan lanjutan lagi pada 1964 dan lulus pada 1966, dengan ijasah setara SMP. Selanjutnya, ia mengambil sekolah lagi untuk mendapatkan ijasah setingkat SMA di KPAA pada 1966 – 1968. Setelah meraih ijazah SMA, Pak Jatiman memutuskan menikah. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai tiga anak.

Pada saat terjadi G-30-S, Pak Jatiman masih bekerja di penjara Kalisosok. Dan ia memang sempat bergabung dan aktif di Serikat Buruh Rumah Tahanan Kalisosok. Mungkin karena keterlibatan dalam serikat buruh itulah, pada tahun 1968 ia ikut dikait-kaitkan dengan peristiwa G-30-S. Menginjak 1968, di penjara Kalisosok situasi mulai tidak tenang. Pemerintah telah menjalankan operasi “pembersihan” terhadap para buruh tahanan Kalisosok yang termasuk golongan kiri dan diduga terlibat G-30-S. Rekan-rekan kerjanya mulai diciduk.

Pada 17 Oktober 1968, Jatiman ditangkap. Dalam interogasi ia ditanyai soal keterlibatannya dalam Serikat Buruh dan PKI. Kendati Jatiman menyatakan bukan sebagai anggota PKI, ia tetap mendapat siksaan dengan cara dipukul dan distrum. Tujuan penganiayaan adalah agar ia mengaku bahwa dirinya pengikut PKI. Jatiman ditahan di rumah militer Koblen. Dari Koblen, kemudian dipindahkan ke penjara Kalisosok tempat ia bekerja. Ia merasakan bagaimana pahitnya ditahan di tempatnya bekerja. Sebuah siksaan tersendiri baginya.

Pada 1969, bersama tahanan lain, ia dipindahkan ke Nusakambangan. Di Nusakambangan, juga dengan tahanan lainnya, ia dipekerjakan di bidang pertanian. Setelah itu, bersama 900 tapol lainnya ia dibuang ke Pulau Buru. Di Pulau Buru ia dipaksa bercocok tanam. Sepanjang masa penahanan Jatiman kerap mengalami perlakuan kasar dan tidak manusiawi dari petugas.

Pada 1979, ia dibebaskan dan kembali kembali berkumpul dengan ibunya di Surabaya. Ia memperoleh kabar bahwa istrinya telah menikah kembali dengan laki-laki lain. Rasa kecewa ia kompensasikan dengan kerja-kerja pembuatan jalan, saluran air dan kerja-kerja fisik lainnya.

Setelah beberapa bulan menjalani masa bebasnya, Jatiman memutuskan untuk menikah kembali. Ia menikah dengan seorang janda. Untuk menafkahi keluarga barunya Jatiman bekerja sebagai penarik becak. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Anak-anaknya dapat menempuh pendidikan perguruan tinggi dan dapat hidup layak, kendati kerap mendapat stigma dan diskriminasi.