3.10 Hasto

3.10

Hasto

Ambarawa, 28 Juli 2000

Hasto lahir tahun 1936. Karena jarak rumah dengan sekolahnya terlalu jauh, ia memutuskan berhenti sekolah saat duduk di kelas dua SMP. Hasto bekerja sebagai petani. ia adalah penganut aliran Sapto Dharmo. Ketika remaja Hasto kagum pada Soekarno dan Semaun. Mulai tahun 1963 ia tertarik pada hal-hal yang berbau politik. Rumahnya sering digunakan untuk menari “Genjer-genjer”. Hasto simpatik terhadap perjuangan Pemuda Rakyat dan PKI. Namun ia tidak mendaftarkan diri untuk menjadi anggota dua organisasi tersebut.

Ia baru tahu bahwa ada penculikan para Jenderal sekitar tanggal 21 Oktober 1965. Ia mendengar kabar ini dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa PKI berontak. Tapi Hasto tidak percaya berita bahwa PKI berontak. Bulan November Hasto ditangkap. Aliran Sapto Dharmo oleh penguasa setempat dihancurkan, karena dianggap sebagai agama PKI. Hasto dibawa ke kantor lurah oleh dua orang polisi. Hasto tidak tahu untuk kepentingan apa dia dibawa ke kelurahan. Sampai di kantor lurah sudah banyak orang yang dikumpulkan. Kemudian Hasto dan beberapa orang lainnya dikirim ke Penjara Ambarawa. Lima hari kemudian Hasto diperiksa. Hasto dituduh akan melakukan pembunuhan terhadap para Jenderal dan memiliki senjata api.

Setelah tiga setengah bulan menghuni Penjara Ambarawa Hasto dikirim ke Nusakambangan. Setiap minggu isterinya selalu menjenguknya di Penjara Ambarawa, namun mereka tidak dapat bertemu, karena petugas melarang tapol bertemu dengan keluarga yang menjenguknya. Biasanya mereka hanya saling pandang dari jarak yang cukup jauh. Untuk komunikasi, mereka hanya membuat semacam tulisan di udara untuk menjelaskan maksud atau kata-kata mereka.

keluarganya tidak mengetahui ketika Hasto dikirim ke Nusakambangan. Di Nusakambangan Hasto menempati Kamp Permisan. Tiap hari ia hanya diberi makan segenggam biji jagung rebus. Pernah selama satu bulan ia dan tapol lainnya tidak boleh keluar dari kamp penjara. Banyak tapol yang meninggal setiap hari. Petugas pemakaman untuk tapol yang meninggal dunia adalah para tapol yang kondisinya juga sangat kurus dan lemah. Jika menggotong jenasah banyak yang tidak kuat dan terjatuh. Bahkan ada yang tidak lama kemudian juga ikut meninggal.

Napi kriminal adalah ‘tangan kanan’ pegawai penjara dalam menangani tapol. Napi kriminal sangat berkuasa atas diri tapol. Makanan yang dimakan napi kriminal jauh lebih baik daripada dimakanan tapol.

Pada satu perayaan 17 Agustus penjara mengadakan pertunjukkan wayang. Selesai pertunjukkan, gedebok pisang menjadi bahan rebutan para tapol. Mereka berebut mengambil untuk kemudian memakannya. Tapol kerap makan lumut got dan kulit pisang. Jika tapol jongkok maka posisi lutut lebih tinggi dari kepala.

Tanggal 19 Desember 1970 Hasto dibebaskan. Hasto masuk dalam pembebasan pertama bersama 18 orang tapol lainnya. Dari Cilacap ia harus menanggung ongkos sendiri.

Setibanya di rumah, isterinya kaget dan takut. Karena kondisi fisik Hasto jelas berbeda dengan saat terakhir ia berjumpa dengan isterinya. Ketika Hasto ditahan isterinya sering digoda untuk dijadikan istri oleh laki-laki lain. Setelah bebas Hasto dikenakan wajib lapor selama satu tahun di kantor lurah. Menjelang pemilu biasanya ia diminta mendukung atau memilih Golkar.

3.9 Gatot

3.9

Gatot

Ambarawa, 25 Juli 2000

Lahir tanggal 17 Agustu 1948. Memiliki enam orang adik kandung. Orangtua bekerja sebagai tukang mebel. Latar belakang Islam cukup kental dalam keluarga Gatot. Namun begitu, ayahnya tidak terlalu fanatik untuk hal pendidikan, hal ini dapat dilihat dari bagaimana ia menyekolahkan Gatot pada sekolah yang dikelola oleh Yayasan Katholik, Pangudi Luhur.

Gatot tidak tahu secara persis latar belakang kegiatan politik yang digeluti oleh ayahnya. Yang ia tahu bahwa sejak bulan November 65, setelah persitiwa G 30 S, ayahnya dikenakan wajib lapor di kantor polisi Ambarawa. Saat itu Gatot baru berusia 16 tahun dan baru saja tamat dari SLTP Pangudi Luhur. Ia juga menyaksikan beberapa tetangganya yang bernasib sama dengan ayahnya, wajib lapor ke kantor polisi.

Beberapa kali Gatot sempat diajak oleh ayahnya untuk menjenguk pamannya yang ditahan di Penjara Beteng Ambarawa. Mereka hanya melihat pamannya dan tahanan lain dari jarak sekitar 300 meter. Setelah menjalani sekian lama wajib lapor, sekitar bulan Maret tahun 1966 akhirnya ayah Gatot ditahan sewaktu memenuhi kewajibannya melapor di kantor polisi Ambarawa. Ia pun kemudian menjenguk dengan membawakan ayahnya makanan yang terbuat dari jagung, sebab makanan jatah dari sel tidak memadai. Bukan hanya dalam hal jumlah, melainkan juga dalam hal mutu.

Setelah beberapa lama ditahan di kantor polisi Ambarawa, ayah Gatot kemudian dipindah ke kamp penahanan lain. Menurut informasi, ayahnya dipindah ke kamp penahanan Salatiga. Gatot kemudian mencari ayahnya ke beberapa tempat yang ditunjukkan oleh petugas, namun Gatot tidak pernah menemukan ayahnya.

Sepeninggal ayahnya, peran kepala keluarga pun ia ambil alih. Sewaktu menjenguk, ayahnya pernah berpesan agar ia dapat menjaga dan menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil.

Dalam keluarga ayahnya, bukan saja ayahnya yang hilang dan tidak jelas rimbanya. Pamannya yang ia dan ayahnya pernah jenguk di penjara pun hilang. Padahal ketika pamannya ditahan, pamannya baru menikah dan isteri sang paman sedang mengandung anak pertamanya.

Salah seorang anak Gatot pernah berniat mendaftar menjadi polwan. Namun keinginannya terhalang persyaratan bersih lingkungan, karena sang kakek adalah seorang tapol.

3.8 Yahya

3.8

Yahya

Ambarawa, 28 Juli 2000

Yahya lahir di Bawen, Kabupaten Semarang. Pendidikan hanya sampai kelas empat Sekolah Rakyat. Ia tidak dapat melanjutkan sekolah karena pecah Perang Dunia Kedua. Pekerjaannya adalah tukang cukur, profesi turun temurun dari ayahnya. Yahya aktif dalam Partai Nasionalis Indonesia. Ia sempat menjadi anggota Panitia Landreform Poros Nasakom sebagai wakil dari PNI.

Setelah peristiwa G 30 S Yahya didatangi oleh polisi. Is diberi surat panggilan untuk menghadap komandan polisi Ambarawa. Yahya memenuhi panggilan tersebut. Sampai di kantor polisi ia tidak diperiksa, hanya diminta naik ke atas truk dan dibawa ke Penjara Ambarawa bersama tahanan yang lain.

Ketika Yahya ditangkap istrinya sedang hamil anak yang ketiga. Ketika Yahya dipenjara isterinya melahirkan. Beberapa bulan setelah melahirkan isteri Yahya meninggal di kali. Yahya tidak tahu apakah istrinya mati karena terperosok di kali atau karena bunuh diri. Tidak lama kemudian anak Yahya yang baru dilahirkan pun menyusul ibunya.

Setelah satu tahun mendekam di tahanan Yahya baru diperiksa. Setelah menjalani pemeriksaan Yahya dikirim ke kamp penahanan Salatiga. Di Salatiga hanya beberapa hari, menjelang tahun 1967 Yahya dibebaskan. Dalam surat pembebasan disebutkan bahwa ia adalah anggota PNI Marhaenis. Tapi tetap saja praktek diskriminasi terhadapnya sama seperti yang dialami tapol-tapol yang lain.

Dalam masa penahanan ia sering melihat tapol lain dipanggil. Dan umumnya mereka yang dipanggil pada malam hari hingga hari ini tidak pernah kembali. Porsi makanan yang disediakan oleh penjara tidaklah manusiawi. Untuk dapat bertahan hidup biasanya membangun solidaritas sesama tapol. Yang sering mendapat kunjungan atau kiriman makanan dari keluarga memberikan sebagian makanannya kepada tapol lain yang tidak dikirimi atau dikunjungi keluarganya.

3.7 Kasdi

3.7

Kasdi

Ambarawa, 29 Juli 2000

Kasdi lahir tahun 1931. Ia tidak tahu secara persis kapan ia lahir, yang ia ingat hanya akhir tahun 1931. Pendidikan sempat terputus karena perang dunia kedua. Pendidikan Kasdi tidak tamat Sekolah Teknik (setingkat SMP). Tidak dapat melanjutkan karena orang tua tidak mampu.

Sebelum pecah peristiwa G 30 S ia sempat menjadi pamong desa. Ia tergabung dalam Persatuan Pamong Desa Indonesia. Setelah pecah peristiwa G 30 S Kasrin dan isterinya serta beberapa orang lainnya dikenakan wajib apel di kantor polisi kecamatan. Baru melakukan 12 kali apel Kasrin sudah dibawa ke kantor polisi dan ditahan di Penjara Ambarawa. Sedangkan istri Kasdi ditahan 21 hari dan menjalani wajib lapor selama 19 bulan.

Selama ditahan di penjara Beteng Ambarawa istri Kasdi selalu menjenguknya. Jika menjenguk isterinya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangan. Jarak antara tempat para pembesuk dan tapol lebih dari seratus meter. Hal ini dilakukan karena petugas penjara tidak mengijinkan tapol untuk bertemu keluarga yang menjenguknya.

Suatu ketika, saat sang isteri melambai-lambaikan tangannya sambil berteriak-teriak memanggil Kasdi, tiba-tiba seorang petugas menendang isteri Kasdi. Padahal pada saat itu isteri Kasdi sedang hamil. Akibat peristiwa ini anak Kasdi lahir prematur dan akhirnya meninggal dunia.

Setiap pukul tujuh malam sering diadakan pemanggilan. Tapol yang dipanggil dinaikkan ke atas truk yang tertutup rapat dan dikawal tentara serta polisi. Menurut kabar yang beredar pada waktu itu, mereka yang dinaikkan ke dalam truk tersebut akan dibebaskan, tapi sampai hari ini mereka tidak pernah kembali.

Setelah ditahan di Penjara Ambarawa, Kasdi dipindah ke Nusakambangan dan menempati Blok Permisan. Makanan yang diberikan hanya gerontol (jagung pipilan) yang tidak dicuci sebelum dimasak, jumlahnyapun kurang lebih hanya 50 butir. Jika tidak gerontol maka gaplek yang sudah membusuk yang diberikan kepada para tapol. Banyak tapol yang terserang busung lapar dan akhirnya meninggal dunia.

Kasdi pernah mengurus pemakaman teman-temannya yang meninggal dunia. Karena terlalu banyak yang meninggal, sementara fasilitas pemakaman tidak dan kondisi fisik sangat lemah, sekitar 18 jenazah temannya tidak sempat terkubur. Sering kali terjadi: hari ini seorang tapol mengubur temannya yang meninggal, besok giliran tapol tersebut yang dikubur.

Oleh pihak penjara napi kriminal diberikan kekuasaan yang luar biasa terhadap para tapol. Maka sering kali para tapol mendapat perlakuan yang kasar dan kejam dari para napi kriminal.

Jika peringatan hari besar agama biasanya tapol hanya diberi sepotong ubi rebus. Suatu ketika diadakan pertunjukkan wayang untuk peringatan 17 Agustus. Setelah pertunjukan wayang selesai, penonton yang umumnya tapol menyerbu perlengkapan wayang dan memakannya, seperti gedebok (batang pohon) pisang, wayang kulit dan barang lain yang sekiranya dapat dimakan.

Setelah empat setengah tahun mendekam di Nusakambangan, Kasdi dikirim ke Pulau Buru. Di Pulau Buru ia dan tapol lainnya membangun sistem pertanian untuk memperoleh makan. Sebab jatah makan yang diberikan pemerintah sangat minim. Penduduk asli Pulau Buru pun diajari sistem pertanian. Rumah ibadah didirikan, penduduk asli mulai dikenalkan agama oleh tapol.

Kasdi dan juga tapol lainnya merasakan bahwa setiap anggota ABRI dinas di Pulau Buru mereka selalu menganggap bahwa tapol adalah musuh Republik. Sehingga sering terjadi kesewenang-wenangan petugas terhadap tapol. Jika tapol lupa memberi hormat kepada petugas, sudah pasti akan menerima pukulan. Bahkan ada petugas yang mengatakan, “Kamu saya bunuh ndak ada yang bela!”

Ketegangan sering juga terjadi antar penduduk asli dengan tapol. Sebab penduduk asli menganggap tapol telah mengambil hak mereka. Sedangkan tapol mengambil hasil alam Pulau Buru demi mempertahankan hidup mereka.

Kasdi masuk dalam rombongan terakhir tapol-tapol yang dibebaskan dari Pulau Buru. Ketika pulang istrinya sudah menikah dengan orang lain.

Tahun 1974, ketika masih di Pulau Buru Kasdi pernah menerima surat dari kakaknya yang memberitakan: “Anakmu sudah lahir dan meninggal. Bapak tahun ‘72 meninggal. Kemuidan kakakmu, Tejo, juga meninggal. Lalu, Ibu juga sudah meninggal. Isterimu sudah menikah lagi.”

3.6 Minto

3.6

Minto

Ambarawa, 27 Juli 2000

Minto dilahirkan di Ambarawa tanggal 20 Mei 1929. Ia sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar selama tiga tahun. Setelah itu ia menjadi buruh tani. Selain sebagai buruh tani, Minto aktif dalam badan perjuangan BPRI (Badan Pemberontak Republik Indonesia) dan Laskar Merah. Pada awal kemerdekaan, ia sempat malang-melintang di kota Yokyakarta, Wonogiri, dan Cepu.

Pada tahun 1950, ia resmi menjadi tentara dengan pangkat prajurit satu. Setelah menjalani tugas di luar Jawa, pangkatnya naik menjadi Kopral. Ia sempat juga menjalani pendidikan kemiliteran di Magelang. Tamat pendidikan, ia menyandang pangkat sersan dan ditugaskan di Kodim Blora.

Di masa tahun 1965, saat terjadi aksi-aksi turunkan harga (menjelang terjadianya G30 S), Bapak Minto aktif memantau situasi di Blora. Ia mengadakan pelatihan bagi Hansip. Ia juga cukup dekat dengan kelompok Pemuda Rakyat.

Pada tanggal 18 Oktober, tanpa alasan yang jelas, ia ikut ditahan dalam operasi pembersihan anggota PKI dan unsur-unsurnya. Ia ditahan di Blora, kemudian dipindahkan di Salatiga. Dalam pemeriksaan, ia sempat ditanyakan tentang keterlibatannya dalam pelatihan dari Hansip Unsur KOM (Komunis).

Ia merasa bahwa unsur yang memberatkan dalam proses penahanan dirinya adalah pernyataannya sebagai orang yang berdiri di belakang. Soekarno, Presiden Republik Indonesia.

Walaupun sebagai tapol, ia tidak pernah mengalami kekerasan/penyiksaan. Ia dipecat dari dinas ketentaraan. Segala haknya sebagai seorang tentara tidak pernah ia terima lagi.

Pada tanggal 12 Januari 72, ia dinyatakan bebas. Dalam surat pembebasan dinyatakan bahwa pada dirinya tidak ditemukan bukti untuk dihukum.

3.5 Hamami

3.5

Hamami

Ambarawa, 28 Juli 2000

Hamami, lahir sekitar tahun 1935. Pendidikan Sekolah Guru A. Tamat SGA Hamami menjadi guru di Magelang. Tahun 1958, dalam pertemuan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) ia diangkat menjadi wakil ketua Pemuda Demokrat. Kemudian ia menggabungkan diri dalam wadah Ikatan Guru Marhaenis (IGM), Namun karena ia melihat IGM tidak independen (di bawah PNI), maka ia beralih ke organisasi PGRI Non Vaksentral, yang menurutnya jauh lebih independen.

Setelah pecah peristiwa G 30 S Hamami ditangkap oleh polisi ketika ia sedang mengajar. Ia dituduh sebagai anggota PKI. Karena merasa bukan anggota PKI, maka ia menyangkal tuduhan itu. Semakin menyangkal, interogator semakin menunjukkan kekuasaannya, Hamami dipukul, disetrum dan ditelanjangi. Alat yang digunakan untuk memukul adalah kemaluan sapi yang dikeringkan kemudian ujungnya diberi pemberat dari timah. Karena tidak kuat dengan siksaan, Hamami akhirnya menuruti kemauan pemeriksa. Hamami mengaku bahwa ia anggota PKI. Selama ditahan ia hanya diberi makan sekitar 100 gram bulgur atau 100-an butir jagung perhari.

Di kamp penahanan Magelang ia kerap mendengarkan teriakan-teriakan kesakitan dari ruang interogasi. Tapol juga banyak yang “dibon” pada malam hari dan hingga saat ini mereka tidak diketahui rimbanya. Hamami pernah mendapati temannya meninggal dunia setelah diinterogasi. Tuduhan pemeriksa untuk temannya adalah telah menyembunyikan tank dan senjata api untuk berontak. Selain karena kekerasan, banyak tapol yang meninggal dunia karena kelaparan. Atau ada juga tapol yang memilih mengakhiri hidup dengan jalan gantung diri karena tidak kuat dengan siksaan. Selain harus menjalani penyiksaan dan pelaparan, para tapol juga diwajibkan “kerja bakti” membuat jalan, membangun jembatan dan kerja-kerja fisik lainnya. Pekerjaan dilakukan selama 24 jam non-stop. Selain itu juga para tapol juga dipekerjakan untuk menguras kakus markas militer, melakukan reboisasi Gunung Tidar.

Pernah selama 60 hari para tapol tidak diperbolehkan menerima makanan dari keluarga. Di saat inilah banyak tapol yang mati kelaparan. Jika ada kucing masuk ke dalam kamp, kucing tersebut pasti ditangkap dan dimasak oleh para tapol untuk makan. Kadal dan kulit pisangpun jadi makanan para tapol. Kapasitas kamar yang hanya dapat menampung 13 orang harus dihuni sekitar 35 orang.

Ketika Hamami di dalam kamp penahanan, istrinya diambil oleh anggota tentara dari kesatuan Armed. Setelah hamil anggota tentara itu kemudian meninggalkan istri Hamami. Menurut istrinya, ia mau melayani tentara tersebut karena dijanjikan Hamami akan dibebaskan dari penjara.

Bulan September tahun 1970 Hamami dibebaskan. Dalam surat pembebasannya disebutkan bahwa ia tidak terlibat dalam peritiwa G 30 baik langsung maupun tidak langsung.

Ketika Hamami ditahan anaknya baru berumur satu tahun. Anak tersebut terganggu jiwanya. Ia tidak terawat secara baik selama Hamami ditahan. Anak tersebut kini sudah dewasa, namun takut menikah karena khawatir akan dikaitkan dengan perilaku ibunya.

Setelah bebas Hamami dipercaya menjadi pengurus Lembaga Masyarakat Desa dan menjadi ketua RT. Hamami pernah juga mengorganisir warga desanya untuk menolak penggusuran jalan umum demi pembangunan terminal oleh Pemda. Tuntutan warga kemudian berhasil. Hamami pernah juga bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak dalam bidang bantuan hukum.

Dalam keluarganya, bukan hanya Hamami yang ditahan akibat peristiwa G 30 S. Adik bungsu dan kakak laki-lakinyapun ditahan dan kemudian hilang.

3.4 Nona

3.4

Nona

Ambarawa, 27 Juli 2000

Nona lahir tahun 1944. Pendidikan terakhir Sekolah Rakyat. Ia batal melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. Ia justru menikah degnan calon guru SMP-nya.

Nona tidak pernah bergabung dalam organisasi apapun. Nona memiliki hobi menyanyi. Ia kerap diundang nyanyi untuk pesta di kampungnya. Ibu Nona tidak tahu aktivitas suaminya, selain sebagai seorang guru SMP dan sebagai karyawan lembaga perdagangan dalam negeri di Semarang. Seminggu sekali suami Ibu Nona pulang ke rumah mereka di Ambarawa.

Ketika pecah peristiwa G 30 S suami Ibu Nona masih bekerja di Semarang. Namun Setelah peristiwa itu, suami Nona yang biasanya satu minggu sekali pulang, sudah tidak pulang lagi.

Nona ditangkap tanpa alasan. Proses penangkapannya terbilang unik. Pada waktu itu, sekitar tanggal 11 bulan November 1965, ibu Nona akan pergi ke kota kecamatan untuk memenuhi undangan menyanyi. Ketika melintas di kantor kecamatan ia melihat banyak orang berkerumun, diantaranya seorang tetangga yang ia kenal. Ia pun turun dari andong yang ia naiki. Ketika akan pergi dari kantor kecamatan tersebut ia dilarang oleh para petugas yang terdiri dari tentara, polisi, dan pamong desa. Dari kantor kecamatan Nona dibawa ke kantor polisi dengan menggunakan truk. Setelah singgah sebentar di kantor polisi, Nona dibawa ke Penjara Ambarawa.

Dalam proses pemeriksaan ia sempat diperiksa. Ia ditanya soal aktivitasnya diorganisasi. Karena ia memang bukan aktivis organisasi, ia pun menjawab bahwa ia tidak aktif dalam organisasi manapun. Jangan kan aktif di organisasi, kata “äktif” saja ia tidak tahu artinya.

Setelah tujuh bulan menghuni Penjara Ambarawa, Nona kemudian dipindah di Salatiga. Setelah diperiksa, pertengahan tahun 1966 ia dibebaskan dari kamp penahanan Salatiga.

Namun walaupun ia telah bebas ia kerap didatangi oleh orang yang menggunakan mobil. Ia tidak tahu siapa orang itu. Setelah orang tersebut pergi biasanya Nona dipanggil lagi ke kantor polisi Salatiga untuk diperiksa.

Untuk memperoleh ketenangan, Nona memilih menikah kembali. Bulan Juni 1966. Oleh petugas yang dahulu menangkapnya ia dijebloskan lagi ke penjara, juga tanpa alasan.

Selama suami hilang dan ia dalam penahanan, kedua anaknya diasuh oleh orangtua Nona. Karena tidak kuat menahan penderitaan dan tekanan, ibu dan tiga orang kakak Nona terkena TBC dan akhirnya meninggal semuanya.

Selama menjalani penahanan, oleh komandan kamp Nona sering dipanggil pada malam hari dengan alasan akan diperiksa. Nona tidak mengatakan secara eksplisit bahwa dia diperkosa atau dilecehkan secara seksual. Ia hanya menggunakan istilah “diruwet” untuk menjelaskan bahwa ia diperkosa atau dilecehkan. Suatu ketika Nona hamil dan melahirkan seorang anak perempuan di kamp penampungan Salatiga.

Di kamp penampungan, selain Nona ada juga tahanan perempuan lain yang kerap dipanggil dan di periksa pada malam hari. Tahanan perempuan itu juga hamil dan melahirkan di kamp. Namun Nona tidak tahu apakah tapol perempuan tersebut mengalami perlakuan yang sama dengan dirinya, dan apakah anak itu buah dari ‘kebejatan’ komandan kamp.

Setelah menjalani proses penantian yang panjang, tanggal 16 Agustus 1971 Ibu Nona dibebaskan. Ia menikah kembali dengan mantan tapol, mantan anggota PNI.