2.8 Angga

2.8

Angga

Bandung, 7 Mei 2000

Angga lahir tahun 1936 dari keluarga tuan tanah. Ayahnya seorang haji yang mempunyai tiga isteri. Ayahnya mempunyai beberapa rumah, perusahaan tenun, dan sawah yang cukup luas. Gedung perusahaannya, sebulan sekali digunakan oleh Bung Karno untuk tempat kursus politik kaum muda. Ayahnya yang sempat terlibat dalam revolusi 45 adalah salah seorang penyumbang terbentuknya Partai Komunis Indonesia.

Setelah menamatkan SMA, tahun 1955 ia pergi ke Yogyakarta. Tujjuan utamanya adalah belajar melukis dengan seorang seniman terkenal, Hendra. Ketika itu juga kerap diadakan pameran lukisan untuk menyambut Konferensi Asia Afrika. Setelah satu tahun belajar, ia pun turut serta memamerkan lukisannya dalam beberapa pameran lukisan.

Tahun 1957 Angga menjadi utusan pemuda dalam acara festival pemuda di Moskow. Dari Moskow ia kembali ke Bandung. Sejak lama rupanya ia telah ‘dibidik’ untuk dijadikan kader PKI. Ia menjadi salah seorang pengurus Lembaga Seni Rupa Indonesia.

Pada tahun 1961, ia menikah di Bandung. Angga memenangkan tender membuat dekorasi kota Bandung yang diadakan oleh Gubernur Jawa Barat Mashudi. Proyek tersebut ia garap sejak tahun 1961 – 1965.

Peristiwa G 30 S membuat bingung anggota dan simpatisan PKI. Tidak ada perasaan bersalah dalam diri mereka, sebab mereka tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka menganggap akan ada pengadilan terkait dengan peristiwa G 30 S. seiring dengan berjalannya waktu, dimulailah aksi pengejaran dan penangkapan terhadap orang-orang PKI dan ormas pendukungnya.

Angga sempat ditangkap dan dimintai keterangan, namun karena kedekatannya dengan militer kota Bandung, ia hanya dijadikan tahanan kota. Tahun 1966 ia dijadikan tahanan kota. Tahun 1968 ia dijadikan tahanan politik penjara Kebon Waru. Dalam setiap pemeriksaan ia selalu diperlakukan baik oleh tentara yang menginterogasinya.

Selama dalam tahanan Angga tetap berkarya. Bahkan ia memiliki kelompok yang hasil usahanya justru memberikan penghidupan bagi para tapol. Produktifitas Angga membuat para petugas segan terhadap Angga. Tidak sedikitpun petugas melakukan tindak kekerasan kepada Angga. Selama menjalani masa penahanan, Angga tahu persis bahwa sebagian besar tapol tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada tapol yang keluarganya menjadi hancur lantaran sang isteri diperkosa oleh aparat keamanan. Rumah tangga Angga sendiri berantakan. Isterinya meminta cerai dan menikah kembali ketika Angga masih dalam tahanan. Perceraian itu membuat luka batin yang mendalam bagi Angga. Orangtuanya pun meninggal lantaran kecewa dan stress berat akibat perceraian itu. Anaknyapun tidak memiliki arah hidup yang jelas.

Tahun 1979 Angga dibebaskan. Ia menikah kembali dengan seoang sarjana ITB yang juga mantan tapol. Setelah bebas Angga semakin produktif dalam berkarya. Ia juga merekrut sejumlah orang untuk dipekerjakan. Pada tahun 1998 iteri keduanya meninggal.

2.7 Mahmud

2.7

Mahmud

Bandung, 22 Mei 2000

Mahmud lahir sekitar tahun 1924. Pada tahun 1943 ia menjadi anggota Peta. Pada era kemerdekaan ia melanjutkan karir militernya di Angkatan Darat. Pangkat terakhirnya adalah kolonel. Di Angkatan Darat ia juga sebagai dosen untuk bidang politik dan strategi, serta bidang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Pada saat itu ia sudah menikah dan memiliki enam orang anak.

Pada tahun 1964, Mahmud mendapat tugas dari Mabes untuk menjadi peserta tim delegasi ke Vietnam. Pada saat itu, di Vietnam sedang terjadi perang melawan Amerika. Mahmud dikirim ke sana untuk mempelajari peperangan di sana, karena Presiden Soekarno sangat simpati pada perjuangan rakyat Vietnam.

Sepulangnya dari Vietnam Mahmud diminta membuat konsep untuk seminar Angkatan Darat. Seminar itu membahas antara lain tentang perjuangan revolusioner, tentang siapa kawan siapa lawan, tentang rencana mempersenjatai massa, dan lain-lain. Seminar tersebut dilangsungkan bulan April 1965. pada saat itu dalam tubuh angkatan darat terdapat dua faksi: yang mendukung dan tidak mendukung Soekarno. Mahmud sendiri ada dalam kelompok pendukung Soekarno.

Menurutnya, peristiwa G-30-S dirancang untuk. “melenyapkan” kelompok pendukung Soekarno dan ada keterlibatan Amerika (CIA). Jenderal A. Yani, sebelum dibunuh, terkenal karena mempu meredam pemberontakan PRRI/Permesta. Sementara itu, ia adalah pribadi yang keras dan tidak mau diajak kerjasama oleh militer Amerika. Maka, sangat mungkin sekali ia dan kelompoknya “dilenyapkan”.

Setelah Peristiwa G-30-S, Mahmud langsung dijadikan tahanan rumah. Tahun 1966 ia dipindahkan ke Nirbaya. Tahun 1968 ia dipensiunkan, dan tahun 1973 ia dipecat sebagai anggota militer, namun saat itu ia masih sempat mendapatkan pensiun.

Pada tahun 1976, Bapak Mahmud disidangkan. Ia mendapat hukuman 17 tahun dipotong masa tahanan dan remisi. Tahun 1981 Mahmud dibebaskan.

Selama dalam tahanan, sedikitnya dua kali dalam satu bulan istrinya menjenguknya dalam tahanan. Berkat perjuangan keras sang isteri pula seluruh anaknya dapat memperoleh pendidikan yang memadai.

2.6 Guritno

2.6

Guritno

Bandung, 1 April 2001

Guritno menyelesaikan studinya pada Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Ia kemudian menjadi anggota TNI Angkatan Udara. Pangkat terakhirnya adalah kapten.

Saat terjadi G-30-S, Ia telah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Saat itu, ia juga masih sempat mendapat tugas dinas di beberapa kota hingga tahun 1970. Saat bertugas di Yogyakarta dan Solo, ia sempat menyaksikan penyiksaan dan pembantaian terhadap kelompok yang dianggap terlibat PKI. Di beberapa sungai dan jalanan banyak mayat tanpa kepala berjejer-jejer.

Kemudian ada perintah dari Ali Murtopo agar dilakukan “pembersihan” dalam tubuh TNI AU. Pada tahun 1970, di Bandung, diadakan “pembersihan”. Guritno dituduh terlibat dengan Partai Komunis Indonesia, ia pun ditahan. Ia sempat mengelak dan membantah tuduhan tersebut, sebab ia memang tidak tahu menahu. Ia hanya memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan sewaktu kuliah di UGM. Namun ia terus disiksa. Bahkan ia memperoleh pukulan bertubi-tubi di sebuah hutan pinus saat akan dibawa ke Lembang. Karena tidak tahan dengan siksaan, akhirnya ia menyerah. Ia persilakan petugas pemeriksa untuk menuduh apapun dalam BAP-nya.

Akibat dari penyiksaan tersebut syaraf punggungnya tidak berfungsi dengan baik. Tahun 1972 ia dipecat dari TNI AU dan dibawa ke Baperda, lalu dipindahkan ke tahanan Kebon Waru, Bandung. Di Kebon Waru, ia mempunyai banyak pengalaman. Di sana ia mengetahui ada seorang anak berusia sembilan tahun ikut ditahan hanya karena membawa lem ikut menempel-nempel poster yang terkait dengan PKI. Anak itu ditahan delapan tahun dan sempat menikah di dalam tahanan. Makanan dan kesehatan tidak terjamin. Beruntung ada tapol yang ahli akupunktur dan bantuan pangan dari Swiss. Untuk mencukupi gizi tambahan, para tapol sering makan daging tikus, kucing, anjing, bekicot, dan kodok.

Di Kebon Waru, para tapol diperbolehkan aktif dalam kerajianan tangan, melukis, beternak, belajar akupunktur, bertani, dan lain-lain. Dari hasil kerajianan dan kegiatan itu, para tapol bisa dapat penghasilan. Bila ada tapol yang sakit, meninggal, para tapol lain saling membantu. Di sana, kunjungan dari keluarga pun boleh dilakukan. Oleh karena itu, tahanan Kebon Waru sering disebut surganya para tapol.

Sejak Guritno ditahan, istrinya ikut menanggung penderitaan yang tak ringan. Ia harus membiayai anak-anaknya, memikirkan tempat tinggal, menghadapi diskriminasi dan “stigma” PKI dari pemerintah dan masyarakat. Lewat kerja kerasnya, soal penghasilan dapat diatasi.

Tahun 1978, Bapak Guritno dibebaskan. Ia kembali ke keluarganya. Karena anak seorang tapol, anaknya sempat mengalami kesulitan untuk menikah dan mencari pekerjaan. Namun semua itu dapat dilalui dan diatasi saat ini.

2.3 Amir

2.3

Amir

Bandung, 12 Mei 2000

Amir lahir tahun 1926. Ia berasal dari keluarga yang memiliki darah Padang. Pada usia 20-an ia sudah terlibat dalam perjuangan melawan Belanda. Pada era revolusi 1945, ia bergabung dalam Laskar Rakyat Jakarta Raya. Dari kelaskaran ini ia berkenalan dan bekerjasama dengan Sidik Kertapati, Chairul Saleh, Nandar, dan lain-lain. Anggota Laskar Rakyat Jakarta Raya kebanyakan berasal dari para pemuda Menteng 31.

Setelah kemerdekaan, pada masa pemerintahan Syahrir, Amir dan rekan-rekanya sempat selisih pendapat tentang hasil perundingan Linggarjati. Amir masuk dalam kelompok yang menentang hasil perundingan. Akibat sikap menentang tersebut, ia harus bersembunyi dari Bandung ke Solo. Pertentangan terhadap hasil perundingan ini memakan korban jiwa seorang anggota Laskar Rakyat.

Tidak hanya perjanjian Linggarjati, Amir juga menentang perjanjian Renville, Rom Royen, dan KMB. Rangkaian dari perjanjian-perjanjian tersebut antara lain, pada tahun 1949 diadakan program “rasionalisasi” tentara oleh Pemerintah Republik. Dengan program rasionaliasi ini Amir dan beberapa kawannya memilih keluar dari ketentaraan. Di antara rekannya antara lain Astra Winata, yang kemudian memilih melanjutkan studinya. Sedang Amir pergi ke Jakarta dan bertemu dengan Muhamad Yamin.

Di Jakarta, Amir mempelajari beberapa buku yang dibawa Muhamad Yamin sepulangnya dari KMB. Buku-buku tersebut antara lain tentang Manifes Komunis, Perang Tani di Tiongkok, Perang tani di Afrika Selatan. Dari bekal membaca buku tersebut, bersama Sidik Kertapati dan kawan lainya, mereka sepakat untuk membentuk organisasi tani, yaitu Serikat Tani Indonesia (SATI). Program utama SATI adalah memperjuangkan “tanah untuk kaum tani”. Program ini berbeda dengan Barisan Tani Indonesia yang mana programnya adalah “Nasionalisasi tanah”.

SATI kemudian berkembang. Sidik Kertapati menjadi ketua SATI. Karena tidak ada perbedaan yang mendasar, pada tahun 1957 SATI berfusi dengan BTI. Sidik Kertapati terpilih sebagai ketua dari dua organisasi yang berfusi tersebut, sedangkan Amir menjadi Sekretaris Umum.

Tahun 1958 Amir menikah. Ia terlibat dalam merumuskan program BTI, antara program penegakan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), program bagi hasil bagi kaum tani, program melawan “setan desa” dan “setan kota”, serta program anti imperialisme sebagai dasar kerjasama internasional.

Setelah Peristiwa G 30 S terjadi aksi pengejaran dan penangkapan terhadap anggota PKI dan ormas pendukungnya. Setelah sekian bulan bersembunyi, akhir tahun 1965 Amir tertangkap. Ia ditahan di Kebon Waru, lalu dipindah ke Nusakambangan dan dibuang ke Pulau Buru hingga tahun 1979.

2.2 Karni

2.2

Karni

Bandung, 18 Februari 2001

Karni lahir di Bandung pada tanggal 5 Februari 1924. Sejak kecil ia tinggal dengan bibinya yang saat itu menjabat sebagai tenaga administrasi Pabrik Gula Kesana Baru (Kesana Baru adalah salah satu kota kecil di Cirebon). Ayah Karni meninggal dunia ketika dia masih kanak-kanak. Pada jaman pendudukan Jepang ia masuk Mulo. Kemudian ia juga bekerja pada Jawatan Kereta Api Jepang.

Pada awal kemerdekaan ia harus mengungsi ke Cirebon. Sebab kota Bandung telah menjadi lautan api. Ibunya sendiri menjadi perawat pada Palang Merah Indonesia. Pada perayaan satu tahun Kemerdekaan RI, ia bertemu dengan seorang komandan kompi di Kesana Baru yang kemudian menjadi suaminya.

Pada masa tentara Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah, suaminya ditugaskan ke Madiun, sedangkan oleh Belanda Karni dibawa ke Colomadu – Karanganyar. Ia berkumpul kembali dengan suaminya di Solo. Menjelang clash kedua, suaminya ditugaskan kembali ke Jawa Barat. Di Majalengka suaminya ditahan oleh kelompok DI/TII, beruntung suaminya dapat meloloskan diri.

Setelah Jepang pergi, masih dalam masa pemerintahan Belanda, Karni kembali bekerja pada jawatan kereta api. Dengan mengatakan bahwa ia telah menjadi janda. Sebab jika pihak Belanda mengetahui bahwa ia bersuami gerilyawan, maka sangat mungkin ia akan dijadikan sandera oleh pihak Belanda.

Tahun 1957–59 suami Karni ditugaskan ke Palembang dalam rangka penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta. Ketika sudah bertugas kembali di Jakarta, suami Karni pernah konflik dengan AH. Nasution terkait dengan barter barang-barang yang berasal dari luar negeri.

Tahun 1960-an suami Karni menjadi dosen pada Seskoad. Sebagai seorang dosen Seskoad maka mereka berhak menempati rumah di Kompleks Seskoad. Tahun 1964 Suami Karni bertugas di Vietnam. Awalnya ia ditawari untuk bertugas memberikan lekses di Pirthburg University Amerika. Namun karena politik Soekarno yang pada waktu itu cenderung anti Barat, maka ia lebih memilih Vietnam.

Setelah Peristiwa G 30 S, perlahan-lahan mereka terusir dari sana. Awalnya sebagian rumah diambil dengan alasan akan ditempati dosen yang baru datang. Tidak lama kemudian ia diperintahkan pindah dari rumah tersebut, sebagai gantinya ia dan keluarga dikontrakkan sebuah rumah untuk waktu satu tahun. Kondisi ini jelas mengganggu proses pendidikan ke empat anaknya. Anak keempatnya diasuh oleh seorang jenderal dan disekolahkan di Universitas Padjadjaran hingga selesai.

Ibu Karni sempat membesuk suaminya di Dirpom (sekarang Puspom, di depan Stasiun Gambir) Itupun tidak dapat bertemu langsung dengan suaminya. Oleh Jenderal Sudirman (komandan suaminya) ia diyakinkan bahwa paling lama suaminya ditahan seminggu sampai 10 hari. Informasi ini membuatnya untuk tidak khawatir. Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba suaminya dan dua orang tahanan lain dinaikkan mobil untuk kemudian dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer Nirbaya. Setelah suaminya ditahan sekitar sebulan ia baru diperbolehkan bertemu langsung dengan suaminya saat menjenguk.

Tidak mudah untuk mengunjungi suaminya. Sebab setiap kali akan menjenguk suaminya di RTM Nirbaya, ia harus memperoleh surat ijin dari Dirpom, yang kadang diberi kadang tidak. Dari Bandung ia seorang diri membesuk suaminya di Nirbaya. Hanya pada saat idul Fitri ia membawa enam orang anaknya saat membesuk suaminya.

Selama suaminya ditahan, Karni tinggal di sebuah rumah kontrakan. Ia tinggal secara berpindah-pindah. Uang kontrakan ia peroleh dari pemberian kerabat dan teman-temannya yang masih peduli. Beruntung pada saat itu ia masih dapat menerima pensiun suaminya. Ia masih menerima pensiun suaminya bukan karena budi baik penguasa, tapi semata-mata karena buruknya administrasi tentara pada saat itu. Uang pensiun hanya cukup untuk menengok suaminya di penjara dua kali dalam sebulan. Setelah anaknya yang paling tua tamat dari ITB dan bekerja di PLN ia dibelikan rumah oleh anaknya tersebut. Ia tidak mengontrak rumah lagi.

Tahun 1972 suami Karni secara resmi dipecat dari ketentaraan. Tahun 1976 suaminya disidang di Cimahi. Dua hari sebelum suaminya disidangkan, suaminya didatangi oleh seorang kolonel yang akan menjadi oditur pada sidangnya nanti. Kolonel itu adalah temannya ketika mereka sama-sama bertugas di Kalimantan. Dalam pertemuan itu seolah sang kolonel ingin meminta maaf kepada suami Karni bahwa ia hanya menjalankan tugas yang jika ia tolak maka ia akan bernasib sama dengan suami Karni. Pengacara memang disediakan dari Siliwangi, namun bukan pembelaan yang ia peroleh tapi pemberatan atas dakwaan yang ia dapat. Tahun 1981 Suami Karni dibebaskan dari penjara.