5.14 Maryono

5.14

Maryono

Blitar, Maret 2001

Maryono lahir di Desa Kedung Banteng, pada 1941. Pendidikannya hanya sampai kelas tiga SR. Pekerjaan utamanya adalah bertani. Selain bertani maryono beternak sapi.

Pascaperistiwa G 30 S, di desanya tentara dan Ansor bekerja sama untuk melakukan penangkapan dan pembantaian terhadap orang-orang yang diduga anggota atau simpatisan PKI. Khawatir menjadi sasaran penangkapan, banyak warga yang melarikan diri, pergi meninggalkan desa. Maryono dan sebelas orang warga lainnya lari ke hutan Ngraten. Sehari semalam mereka berada di dalam hutan. Setelah tahun ’65 keadaan mulai membaik.

Pada 1967 Maryono menikah. Baru satu tahun menjalani rumah tangga, pada 1968 tentara kembali melakukan perburuan terhadap orang-orang PKI. Maryono dan istrinya, serta 22 orang lainnya ditangkap oleh tentara. Selama delapan hari mereka ditahan di Desa Ngeblak. Karena dianggap tidak terlibat, mereka dipulangkan ke Ngrejo.

Pada suatu malam Maryono dan sepuluh orang lainnya dikumpulkan di suatu tempat. Pada saat itu juga datang rombongan tapol, sekitar 40 orang, yang diangkut dengan menggunakan truk. Dari tempat Maryono berkumpul terdengar suara rentetan tembakan. Setelah itu Maryono dan sepuluh orang lainnya diperintahkan untuk naik ke dataran yang lebih tinggi. Di tempat itu Maryono menyaksikan rombongan tapol yang ia lihat tadi sudah menjadi mayat dengan luka tembak di bagian dada. Mereka baru saja dieksekusi. Kebanyakan mereka adalah orang yang sudah tua, beberapa diantaranya masih tampak masih muda. Semua korban berjenis kelamin lak-laki.

Di bawah todongan senjata tentara, Maryono bersama sepuluh orang lainnya dipaksa menguburkan 40 mayat tapol tersebut. Di bagian dada korban terdapat tanda selempang merah, dan mereka sudah tidak mengenakan pakaian. Masih dalam todongan senjata, Maryono dan sepuluh orang temannya diminta memasukkan mayat-mayat itu ke dalam dua buah lubang dan satu buah gua di pinggir sungai.

Sejak tahun 1969, Orde Baru mengganti semua pamong desa, lurah, carik serta kamituo Blitar Selatan dengan orang-orang yang berasal dari ABRI. Dan penduduk dipaksa untuk memilih Golkar.

5.16 Muspani

5.16

Muspani

Blitar

Muspani tidak tahu secara persis kapan ia dilahirkan. Sebab tidak ada catatan resmi mengenai tanggal kelahirannya. Namun berdasarkan perkiraannya ia lahir tahun 1942. Ayahnya adalah seorang pamong desa. Saat akan mengikuti ujian kenaikan kelas tiga SMP, Muspani diminta oleh kepala desa untuk membantu pekerjaan ayahnya. Ia pun memilih memenuhi permohonan tersebut ketimbang melanjutkan sekolahnya.

Di desa tempat Muspani tinggal, hanya ada dua organisasi politik yang sangat berpengaruh, yaitu Nahdlatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia (ditambah dengan ormas pendukungnya). Di desanya organisasi Barisan Tani Indonesia memiliki simpatisan yang cukup banyak. Mungkin karena di desanya banyak terdapat petani miskin yang tidak memiliki lahan sendiri untuk digarap.

Setelah peristiwa G 30 S, Muspani dipecat dari jabatannya sebagai Pamong Desa, ia dinyatakan terlibat dalam peristiwa tersebut. Di desanya juga terjadi pembunuhan terhadap mereka yang dituduh anggota atau simpatisan PKI atau ormas pendudukungnya. Muspani sendiri ditangkap tahun 1968 oleh anggota Koramil saat pemerintah melakukan Operasi Trisula. Penangkapan terhadap Muspani dikaitkan dengan peristiwa Blitar Selatan. Sebab ada dua orang sahabat Muspani yang terlibat dalam organisasi perlawanan di Blitar Selatan. Muspani sempat diperiksa. Dalam pemeriksaan Muspani mengalami penganiayaan yang menyebabkan beberapa giginya tanggal.

Dalam penjara ia dan tahanan lain tidak memperoleh makanan yang layak, baik dari segi jumlah maupun standar gizi. Hampir tiap malam selepas jam sembilan dilakukan pemanggilan terhadap para tahanan (dibon). Biasanya tahanan yang dipanggil pada malam hari tidak pernah kembali ke selnya lagi. Setelah menjalani pememenjaraan selama dua tahun, akhirnya Muspani dan beberapa orang tahanan lainnya dibuang ke Pulau Buru. Awalnya Muspani dan tapol lain tidak tahu bahwa mereka akan dikirim ke Pulau Buru. Sebelum ke Pulau Buru, beberapa hari mereka ditahan di Penjara Nusakambangan.

Tiba di Transito Pulau Buru ia dan tahanan lain harus berjalan kaki menembus hutan selama beberapa hari untuk mencapai unit penahanan. Di Pulau Buru Muspani belajar ilmu tusuk jarum dan kesenian ludruk. Selama masa penahanan, Muspani juga berpindah agama. Dari semula Islam menjadi seorang Katholik. Alasan pindah agama pun karena masalah praktis. Jika di Islam ia tidak sanggup menjalankan kewajiban sholat lima waktu, karena kondisi fisik selama ditahanan tidak memungkinkan ia untuk melakukan sholat lima kali dalam satu hari. Sementara, jika di Katholik ia hanya satu minggu sekali ke gereja.

Setelah bebas dari Pulau Buru, Muspani memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang akupuntur untuk menolong para tetangga yang sakit.

5.15 Ruslan

5.15

Ruslan

Blitar,

Ruslan lahir di Desa Ngrejo, Blitar, 12 Desember 1939. Karena keterbatasan biaya, ia tidak sempat melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru B. Tahun 1961 ia melamar untuk dapat bekerja pada Jawatan Kehutanan dan diterima. Jabatannya adalah mandor tanam. Ruslan bergabung dengan Sarbuksi, Serikat Buruh Kehutanan Seluruh Indonesia. Lewat Sarbuksi ijin tanam di lahan kosong mudah didapat. Lahan kosong tersebut kemudian digarap oleh petani miskin selama satu tahun. Setelah digarap kemudian ditanami kayu jati. Pada 1963, di daerahnya diserang hama tikus. Pemuda Rakyat dan PNI aktif melakukan pemberantasan hama tikus.

Tidak lama setelah Peristiwa G 30 S, Ruslan dipecat dari Jawatan Kehutanan. Alasan pemecatan karena ia anggota Sarbuksi. Setelah dipecat ia dikenakan wajib lapor di markas Koramil. Sementara itu, di kampungnya sudah dimulai pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Namun Ia masih aman dan tetap bekerja sebagai petani. Keadaan baru berubah pada tahun 1968 bersamaan digelarnya operasi Trisula. Banyak warga yang tidak mengerti apa-apa dibunuh dalam operasi ini.

Khawatir atas keselamatan jiwanya, Ruslan dan warga lainnya memilih masuk ke hutan untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri. Sementara tentara dan massa terus melakukan pengejaran dan penembakan. Merekapun membuat pagar betis. Banyak pelarian yang mati. Ruslan tertangkap di daerah dekat Trenggalek. Dari Trenggalek ia dibawa ke Kediri. Lalu dipindahkan lagi ke Nganjuk, Madiun dan Surabaya. Pada 1969 Rusli dipindah ke Nusakambangan. Setelah sekitar satu bulan di Nusakambangan, Rusli dibuang ke Pulau Buru bersama ratusan tapol lainnya. Di Nusakambangan para tapol mengalami krisis pangan, sebab jatah atau persediaan makan yang dibawa dari Jawa sangat terbatas. Di Pulau Buru Ruslan belajar teknik akupunktur.

Menurutnya peran gereja terhadap kelangsungan hidup tapol di Pulau Buru sangat besar. Untuk itulah ia memilih menjadi umat kristiani.

Pada 1977 Ruslan dibebaskan. Ia kembali ke kampung halamannya. Ia kembali menjadi petani.Aktivitas lain selain bertani adalah kegiatan keagamaan di gereja.

5.13 Paijo

5.13

Paijo

Blitar,

Paijo dilahirkan di Desa Ngrejo, Blitar Selatan sekitar 1930 dengan kondisi invalid pada kakinya. Kondisi ini menyebabkan ia tidak bisa berjalan terlalu jauh. Pada masa kemerdekaan di Blitar Selatan berkembang Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedang partai lain tidak ada, PNI pun sangat kecil. Banyak warga yang memilih bergabung dengan PKI, termasuk Paijo. Sebagai seorang petani Ia juga bergabung di BTI. Disamping itu ia juga ikut aktif di Lekra.

Di Lekra ia berperan sebagai pemain gamelan ludruk dan ketoprak. Baginya program PKI baik-baik saja, sebab bercita-cita ingin mewujudkan rakyat adil dan makmur. Salah satu program PKI dan BTI adalah melaksanakan landreform, yaitu dengan menduduki lahan bekas perkebunan Belanda dan dibagikan ke petani yang tidak bertanah. Semua itu berjalan tanpa ada keributan berarti.

Saat terjadi Peristiwa G-30-S ia sudah memiliki tiga orang anak. Setelah peristiwa itu, Paijo dan keluarganya serta beberapa warga lainnya bersembunyi untuk menyelamatkan diri. Sebab di kampungnya dilakukan operasi penangkapan terhadap orang-orang PKI. Setelah situasi kampungnya aman, ia pun kembali ke rumah.

Pada 1968 diadakan operasi Trisula. Operasi kali ini sangat ketat, warga “digiring” dan dikumpulkan. Warga yang melarikan diri dan tertangkap dihukum tembak. Menurut pengakuannya, mungkin karena kakinya invalid membuat ia tidak dihukum.

Paijo sempat terlibat dalam proses eksekusi terhadap 40 orang tapol. Beberapa diantara mereka adalah teman-teman Paijo. Sejujurnya ia tidak mau terlibat dalam proses itu, namun karena paksaan aparat ia terpaksa menggali lubang untuk mengubur mayat 40 orang tapol yang dieksekusi tersebut.

Pada masa Orde Baru berkuasa, ia terpaksa menjadi kader Golkar. Pada masa reformasi ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).