2.18 Djayadi

2.18

Djayadi

Tasikmalaya, 4 April 2001

Djayadi dilahirkan di Cikatomas, sebuah kecamatan sekitar 50 kilometer ke arah Selatan Tasikmalaya. Ia adalah anak seorang kepala sekolah. Ketika terjadi clash kedua, keluarga Djayadi mengungsi. Tahun 55 ia menjadi seorang guru. Isterinya adalah anak seorang camat.

Djayadi menjadi wakil unsur Komunis dalam Front Nasional tingkat kecamatan dalam rangka ideologisasi Nasakom Soekarno. Ia juga mewakili daerahnya untuk persoalan-persoalan agraria. Djayadi mengalami masa-masa pemberontakan DI/TII. Ia juga mengetahui bagaimana kedekatan PKI dengan TNI dalam rangka menumpas DI/TII.

November 1965 ia ditangkap. Dalam proses interogasi ia dipukuli, dipaksa mengakui bahwa ia memiliki 500 pucuk senjata dan sebuah truk. Ia ditahan di Penjara Kebon Waru, Bandung. Isterinya “diambil” oleh tentara ketika ia berada dalam penjara.

Di dalam tahanan Kebon Waru, Djayadi pernah diangkat menjadi kepala bagian industri, yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan bersama. Caranya adalah dengan membuat barang-barang kerajinan tangan yang akan dijual di luar penjara. Karena ada perbedaan penafsiran kata “kesejahteraan bersama” dengan komandan Kebon Waru, jabatan itu tidak berlangsung lama digenggam Djayadi. Djayadi menganggap bahwa “kesejahteraan bersama” adalah kesejahteraan para tapol. Sedangkan Komandan Kebon Waru beranggapan bahwa ‘kesejahteraan bersama’ adalah kesejahteraan tapol dan petugas penjara.

Setelah bebas, Djayai bersama temannya mendirikan sebuah CV yang mengerjakan proyek-proyek pembangunan jembatan. Proyek itu kemudian ia tinggalkan. Itu semua demi keamanan teman-temannya. Sebab ada seseorang yang menuding bahwa CV itu adalah CV komunis.

Djayadi termasuk seorang yang sangat menyukai kesenian. Sebelum peristiwa 65 ia memiliki seperangkat gamelan degung di rumahnya, dan aktif dalam mengembangkan kesenian lain di daerahnya, seperti wayang golek dan pencak silat. Djayadi pernah menjadi guru les Bahasa Inggris. Ia juga pernah bekerja di sebuah koperasi Legiun Veteran RI, di Jakarta. Ia pun menikah kembali. Tahun 1998 isteri keduanya meninggal dunia.