2.19 Endin

2.19

Endin

Tasikmalaya, 4 April 2001

Endin dilahirkan pada tanggal 22 Mei 1938. Ia berasal dari sebuah keluarga miskin. Karena keluarga kurang mampu membiayai, Ia hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR). Pada umur 13 tahun ia harus bekerja untuk membantu orangtuanya.

Pada Tahun 1948, ia menyaksikan pasukan DI/TII menyerang asrama tentara APRIS di Banjar, Tasik Malaya. Dalam kejadian itu banyak tentara APRIS yang dibantai DI/TII. Setelah DI/TII berhasil ditumpas, Endin pergi ke Jakarta. Ia bekerja sebagai buruh bangunan. Setelah beberapa tahun di Jakarta, pada awal tahun 1965 ia kembali lagi ke Tasik. Ia kemudian bergabung di Pemuda Rakyat (PR). Ia bergabung dengan PR karena tertarik dengan visi dan misinya yang sejalan dengan cita-citanya, yaitu membela kaum yang tertindas dan lemah. Kegiatan PR antara lain memperbaiki saluran irigasi pertanian, membantu memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak.

Pada masa ia aktif di Pemuda Rakyat, ia telah menikah dan dikaruniai satu orang anak. Baru beberapa bulan aktif di PR terjadi Peristiwa G-30-S. Endin mendengar berita itu dari radio. Ia tidak tahu-menahu tentang peristiwa itu dan mengapa dihubungkan dengan PKI yang katanya sebagai pelaku pembunuhan para Jendral.

Pada tanggal 7 November 1965, Sekitar jam 07.00, Endin ditangkap. Ia dibawa ke Balai Desa, lalu ke Koramil. Tahun 1966 dipindah ke Kamp Simpang, dan tahun 1969 dipindah lagi ke Pulau Buru.

Selama penahanan itu, tidak pernah sekali pun ia mengalami pemeriksaan. Ia mengaku “dilibatkan” begitu saja pada kasus G-30-S, walaupun ia tidak tahu menahu. Ketika masih menjalani penahanan di kamp Simpang, Bapak Endang “diceraikan” oleh istrinya.

Sedang pengalaman di Pulau Buru, ia mengaku diperlakukan seperti binatang. Ia mempunyai pengalaman dimana para tapol disiksa hanya karena ketidaktahuan para petugas dalam mengolah pertanian. Kadang tapol dikira bermain-main saat bekerja, misalnya saat membuat pematang sawah dimana kaki harus menginjak-injak lumpur. Menyaksikan hal itu petugas marah dan menyiksa para tapol. Mereka menganggap para tapol bermain-main lumpur saat membuat pematang sawah.

Di Pulau Buru, Endin sempat berada di unit 10, lalu dipindah ke unit 12, dan terakhir di unit 13. Pada tahun 1979 ia dibebaskan. Setelah bebas, ia kembali lagi ke Tasik. Pada tahun 1980, ia menikah lagi.

Mengenai perjuangan dia terhadap nasib yang dialami, ia bergabung di Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Ia berharap, lewat Pakorba ia dapat memperjuangkan nama baiknya, menghilangkan stigma buruk, menghapus diskriminasi yang masih dialami para tapol.