3.41 Mamuji

3.41

Mamuji

Purwodadi, 2 September 2000

Mamuji lahir di desa Jambon, Kecamatan Bulu Wetan, Purwodadi – Grobogan, tanggal 29 September 1929. Ia adalah anak tunggal. Orangtuanya adalah penjual daging. Tahun 1952 tamat pndidikan SMA. Sejak SMA ia sudah aktif di Pemuda Rakyat,terutama dalam program pembagian tanah untuk masyarakat. Umumnya guru-guru yang mengajar di sekolahnya adalah aktivis PKI. Hal inilah yang membuat Mamuji tertarik untuk berorganisasi. Tamat sekolah ia menjadi guru. Tahun 1963 ia menikah dan dikaruniai tiga anak laki-laki.

Setelah Peristiwa G-30-S, ia mendapat penggilan dari lurah untuk menghadap ke kantor kecamatan. Setelah melapor ia kemudin ditahan. Dengan membayar Rp. 75.000 kepada petugas, ia kemudian dibebaskan. Kendati bebas, ia kerap dipaksa oleh aparat desa untuk melakukan “kerja bakti” Setelah tiga bulan berada di luar kamp penahanan. Mamuji kembali ditangkap dan ditahan. Ia dituduh menyimpan senjata dari RRT, mengadakan latihan perang dan membuat rencana untuk merobohkan pemerintahan yang ada.

Ia mendapat penyiksaan yang paling berat saat ditahan di kamp Panunggalan. Di sana tapol pria dan wanita ditelanjangi, distrum alat vitalnya, dipukul. Selain kekerasan fisik, ia yakin terjadi pemerkosaan terhadap tahanan wanita. Beberapa kali ia mengalami pemindahan tempat penahanan. Antara lain, Semarang, Salatiga, Ambarawa, Purwodadi. Menurutnya, di kamp penahanan Monggot dan Kuwu (Purwodadi), setiap hari, sekitar 40 orang tapol dibunuh. Ia mengetahui hal ini. Sebab, sekalipun ia tapol, ia pernah dilibatkan menjadi anggota tim skrining.

Pada masa ia ditahan, ada istilah nyokot (menggigit) teman. Artinya seseorang menyebut temannya atau siapa saja terlibat dengan PKI atau dalam G 30 S. Semakin banyak nama yang dicokot, semakin ringan pula aniaya atau hukuman yang diterima orang tersebut. Hal ini yang dilakukan Maruji. Dalam pemeriksaan, Maruji menyebutkan siapa saja nama-nama yang ia kenal. Cara ini ia lakukan untuk menghindari hukuman atau penganiayaan yang lebih berat lagi. Toh, petugas tidak akan melakukan cross check informasi. Yang dibutuhkan petugas adalah nama-nama orang kampung yang dapat diambil. Apakah mereka terlibat PKI atau G 3o S, itu soal lain yang tidak penting.

Di dalam tahanan ia mendapat kabar bahwa isterinya meninggal dunia karena tertabrak kereta api. Akan tetapi, pada saat memperoleh “cuti” hari raya, Mamuji.baru tahu bahwa isterinya telah menikah lagi dengan laki-laki lain. Ia hanya berfikir tentang kelanjutan hidup tiga orang anaknya.

Setelah dibebaskan Maruji menikah kembali dengan seorang gadis yang pernah ia jumpai saat mendekam di Kamp Gubuk. Namun pernikahannya hanya berumur tiga bulan. Mereka bercerai karena perbedaan agama. Mamuji kembali menikah dan dikaruniai satu orang anak laki-laki. Tekadnya saat itu adalah membesarkan dan mendidik anak-anaknya.