6.16 Jumawa

6.16

Jumawa

Bali, 14 Agustus 2000

Jumawa adalah sulung dari lima bersaudara. Ayahnya seorang anggota TNI. Tahun 1964 Jumawa diterima sebagai siswa SMA Negeri 1 Denpasar dan kemudian menjadi aktif di Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia (IPPI). Kedisiplinan dan kepedulian pada masyarakat bawah yang ditonjolkan oleh IPPI menjadi pendorong utama keterlibatan Jumawa. Dalam IPI ia berkecimpung dalam dunia seni, bernyanyi dan menari Saat itu IPI juga terlibat aktif dalam menentang imperialisasi dan mendukung aksi ‘Ganyang Malaysia’, serta banyak bergerak dalam membangun nation building dan character building. Soekarno adalah tokoh nasional yang ia kagumi.

Jumawa masih duduk dibangku kelas 2 SMA ketika peristiwa G 30 S terjadi. Oleh pemerintah (militer) IPI dinyatakan sebagai underbouw PKI, untuk itu seluruh anggota IPI diminta untuk dinonaktifkan dari sekolah. Jumawa pun akhirnya lebih banyak tinggal di rumah, lebih-lebih pada saat itu situasi sangat mencekam karena aksi penumpasan orang-orang yang dituduh PKI dimulai.

Bersamaan dengan aksi pengancuran PKI, Jumawa menilai bahwa Soekarno sebagai seorang Presiden tidak memperoleh perlakuan yang layak. Bersama beberapa temannya, ia membentuk Barisan Soekarno. Melalui Barisan Sukarno ia menerbitkan buletin yang disebarluaskan. Sementara ia aktif di “Barisan Soekarno”, pada tahun 1967, ia mendapat penggilan untuk sekolah kembali. Ia pun melanjutkan sekolah hingga selesai pada tahun 1968. Baru saja ia menyelesaikan masa ujian akhir, ia diciduk oleh intel polisi dan dibawa ke Polda. Setiba di Polda sudah banyak tahanan lain yang berasal dari desa-desa dengan tuduhan terlibat “PKI Malam” atau “PKI Gaya Baru”. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, ia dipindahkan ke Teperda dan ditahan selama dua tahun di sana tanpa ijin untuk dikunjungi keluarganya. Ia juga kerap menjalani pemeriksaan yang dibarengi dengan penyiksaan.

Tahun 1970 Jumawa diadili dan divonis enam tahun penjara. Namun jika dihitung sejak ia ditahan hingga ia dibebaskan, pelaksanaan hukumannya tidak kurang dari sepuluh tahun.

Setelah dibebaskan, ia dikenakan wajib lapor. Pada masa Pemilu, ia banyak diawasi. Agar dapat terus bertahan hidup, ia bekerja serabutan, bahkan sempat merantau ke Jakarta. Setelah mendapat hasil yang memadai, ia menikah pada 1980. Kakak iparnya juga seorang tapol. Sampai saat diwawancarai, Jumawa masih bekerja sebagai distributor keramik.