6.17 Taran

6.17

Taran

Gianyar, 18 Agustus 2000

Sebelum meletus tragedi G-30-S, Taran aktif di bidang kesenian Bali, antara lain seni Janger. Ia sempat mengenal dan bergaul dengan kelompok Lekra dan BTI. Pada masa itu ia menilai Lekra dan BTI sebagai ormas yang sering memperjuangkan kaum miskin, seperti buruh tani. Perjuangan kaum buruh tani sering ia jadikan sebagai cerita atau lakon dalam seni janger. Misalnya tentang perlakuan tuan tanah terhadap kaum buruh yang tidak adil, tentang petani yang demonstrasi, dan lain-lain.

Setelah G-30-S meletus, ia ditahan oleh polisi dan dibawa ke Kodim Denpasar. Karena tidak ditemukan indikasi jelas tentang keterlibatannya dalam PKI, tahun 1967 ia sempat dibebaskan. Dalam pembebasan (sementara) ini, ia sempat menikah dengan alasan apabila ditahan akan ada pihak yang membesuk. Orangtua atau saudara-saudaranya tidak bisa diharapkan, sebab mereka sangat takut dituduh terkait dengan orang-orang PKI.

Pada tahun 1968, Taran ditahan kembali dengan modus yang lebih “terencana”. Dalam pemeriksaan, Pak Taran dan tahanan lain dipaksa untuk mengaku sebagai anggota PKI malam. Karena penyiksaan terus menerus, Taran akhirnya menandatangani berita acara pemeriksaan yang menyatakan dirinya sebagai anggota PKI Malam. Ia kemudian diadili dan divonis delapan tahun penjara pada 1975.

Selama dalam tahanan, Pak Taran menyaksikan beberapa tahanan lain dieksekusi. Ia juga mengaku cukup kenyang dengan penyiksaan sehingga punggungnya sempat hancur karena pukulan. Makanan yang diberikan untuk para tahanan juga sangat tidak manusiawi sehingga beberapa tahanan ada yang memakan tikus, kecoa dan hewan lain agar dapat bertahan hidup. Namun banyak pula para tahanan yang akhirnya meninggal dunia akibat siksaan dan kelaparan.

Tahun 1974, setelah kunjungan Komisi Internasional, kondisi para tahanan relatif lebih baik. Para tahanan mulai tersentuh dengan program pemeliharaan kesehatan dan kualitas makanan untuk para tapol pun mulai meningkat.

Pada tanggal 20 Desember 1977, Taran dibebaskan, namun masih sering diawasi dan dipanggil polisi untuk menjalani pemeriksaan. Anak-anaknya pun kerap mengalami diskriminasi karena stigma “PKI” yang begitu begitu kuat. Stigma ini perlahan mulai tergerus seiring dengan berjalannya waktu, terutama pada era reformasi. Kini ia pun kembali menekuni kesenian Janger.