6.19 Nitik

6.19

Nitik

Kapal, 24 Agustus 2000

Nitik sudah berusia 17 tahun ketika Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno Hatta. Ketika itu ia tinggal di Kapal, Bali. Ia terlibat aksi pelucutan terhadap tentara pendudukan Jepang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia kemudian menjadi menjadi guru pada 1950.

Pada era 1950-an bermunculan organisasi massa dan organisasi partai, antara lain PNI dan PSI. Nitik lebih memilih untuk menjadi anggota PNI, karena partai ini mengusung semangat nasionalisme. Setelah PSI dibekukan, muncul PKI. Untuk menarik simpati warga Bali, PKI mengusung isu pembebasan ekonomi dari para “pencoleng”. Aksi ini cukup berhasil untuk menarik massa meskipun kerap memunculkan ketegangan diantara partai-partai. Persaingan lewat programpun terjadi, misalnya ketika PKI melatih ketangkasan kepada para pemuda, PNI pun melakukan hal serupa.

Pada tanggal 30 September terjadi konsentrasi massa PKI dengan bersenjata di Bali. Nitik mendapat informasi bahwa di Jakarta ada gerakan menghadapi kup dari Dewan Jenderal. Massa PKI di Bali ikut siap siaga dan menentang Dewan Jenderal. Beberapa waktu kemudian ada berita resmi dari pengurus PNI dan aparat pemerintah bahwa PKI telah memaksakan kehendak dan melenyapkan para Jenderal yang jadi penghalang, dan G 30 S didalangi oleh PKI.

Bulan Desember muncul kekacauan di Bali. Menurut Nitik, anggota PKI daerah Kapal menuntut pengurusnya bertanggung jawab, karena telah membohongi rakyat. Bahkan para pengurus partai banyak yang dibunuh oleh anggotanya sendiri. Sementara itu di daerah lain sudah terjadi pembakaran dan pembunuhan.

Di Kapal, pada bulan Maret 1966, bersama anggota PNI lain, Nitik ikut melakukan pembersihan PKI secara “resmi” yang dikoordinir oleh RPKAD. Di Kapal sempat ada eksekusi tembak mati terhadap sekitar 25 oarang anggota PKI, di antaranya Puger. Tetapi ia mengaku, di Kapal tidak ada konsentrasi tempat penahanan, semua yang terlibat PKI diseleksi dengan baik dan “diamankan” secara rapi untuk kemudian diserahkan kepada aparat pemerintah.

Pada era pemerintahan Soeharto, Nitik aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada tahun 1971 ia sempat ditahan selama satu tahun karena sebagai seorang guru ia dianggap menghalangi program Golkar. Tahun 1978, karena tidak terbukti bersalah dan tidak terlibat G 30 S, ia direhabilitasi dan bekerja kembali di Kantor Dinas Pengajaran Kabupaten. Sementara itu, keaktifannya di PDI mengantarnya ke kursi DPR.

Sementara itu, dalam menanggapi kasus Tragedi 1965, dalam rangka konsolidasi kembali di Bali, ia menyuarakan agar kasus tersebut kita lupakan saja, dan berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali.