6.21 Berdha dan Dedi

6.21

Berdha dan Dedi

Bali, 29 Agustus 2000

Berdha dilahirkan tahun 1924. Pada tahun 1940 ia menikah dengan Sutedja, salah satu pejuang republik, baik pada periode melawan Jepang maupun Belanda. Pada masa penjajahan Sutedja kerap keluar masuk penjara. Lalu pada era kemerdekaan ia memperoleh pengakuan sebagai seorang veteran dari pemerintah dengan nomor pokok veteran 282757 A.

Sutedja bekerja di birokrasi pemerintahan, ia menjadi camat/raja. Saat Bali menjadi provinsi, oleh Presiden Soekarno Sutedja diangkat menjadi Gubernur Bali. Sebagai gubernur, beliau ikut terlibat dalam mengurus organisasi-organisasi di Bali antara lain BTI, SOBSI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat. Selama ia menjadi gubernur, Soekarno sering berkunjung ke Bali dan menemui keluarga Sutedja.

Pascaperistiwa G 30 S, Sutedja ditugaskan ke Jakarta oleh Soekarno. Untuk mengisi sementara posisi Sutedja yang kosong, Sugriwa diangkat sebagai gubernur caretaker. Keluarga Sutedja kemudian menyusul ke Jakarta pada 28 Desember 1965. Di Jakarta, keluarga Sutedja tinggal di daerah Senayan dengan fasilitas dan pengamanan yang cukup. Pada tanggal 29 Juli 1966, Sutedja didatangi oleh orang yang mengaku bernama Kapten Tedy dan memintanya untuk datang ke markas. Namun sejak kepergian itu, Sutedja tidak pernah kembali lagi. Berdha berusaha mencarinya hingga ke Istana Bogor untuk menemui Soekarno, namun ia tetap tidak memperoleh informasi keberadaan dan nasib suaminya. Sementara itu, Benny, salah satu putra Sutedja yang juga sukarelawan dalam merebut Irian Barat, kembali ke Jakarta setelah mendapat informasi tentang ayahnya. Ia turut berupaya mencarinya, dan memperoleh keterangan bahwa Kodim tidak mengeluarkan surat perintah pemanggilan untuk ayahnya. Nomor kendaraan jeep Nissan yang dipakai menjemput Sutedja juga tidak dikenal. Kemudian Benny melacak dan menanyakan ke Menteri Dalam Negeri, Jenderal Basuki Rahmat, Jenderal Gatot Subroto (Kepala Skrining Nasional), namun tetap tidak diketahui keberadaan Sutedja.

Tahun 1970 Berdha kembali ke Bali. Di Bali ia harus memulai kehidupan dari awal lagi karena sekitar tahun 1967 rumahnya dirusak oleh massa anti PKI. Dengan kesabarannya, ia dan anak-anaknya dapat bangkit kembali. Sampai saat ini keluarganya masih terus berjuang untuk mengetahui nasib dan keberadaan makam Sutedja jika memang sudah meninggal dunia. Upaya pencarian terhadap Sutedja terus dilakukan hingga pemerintahan BJ. Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Komnas HAM pun dikirimi surat untuk melacak keberadaan Sutedja, namun hasilnya tetap nihil. Keluarga berharap kebenaran dan keadilan bisa ditegakkan di negeri ini.