8.18 Nurwahid

8.18

Nurwahid

Palu, 19 Januari 2001

Nurwahid dilahirkan di Parigi pada 1945. Proses pendidikan Nurwahid sangat tersendat. Bukan hanya karena kemiskinan, namun juga karena dinamika politik nasional yang begitu tinggi. Baik karena invasi Jepang maupun aksi-aksi pemberontakan di dalam negeri. Kendati tersendat, Nurwahid akhirnya menamatkan pendidikan hingga ke jenjang SLTA. Pada masa sekolah ia aktif di organisasi Ikatan Pelajar Indonesia (IPI).

Pada 1965, oleh pihak sekolah ia ditunjuk untuk ikuti pendidikan pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) Pada masa kuliah ia ikut dalam kongres CGMI di Jakarta. Pascaperistiwa G 30 S, Rektor meliburkan kuliah hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Suhu plitik di Jakarta mulai memanas. Dengan kereta api, Nurwahid dan teman-temannya menuju ke Surabaya. Rencananya, dari Surabaya mereka akan kembali ke Palu. Namun, setibanya di Surabaya, tidak ada satupun kapal yang berlayar. Suhu politik di Surabaya pun memanas. Beruntung ada seorang polisi yang memperkenankannya untuk bermalam di kantor polisi.

Sekitar tanggal 10 Nopember 1965 ada kapal menuju Sulawesi. Nurwahid dan teman-temanya menitipkan sejumlah uang kepada salah seorang polisi untuk membeli tiket. Uang sudah diberikan namun tiket tidak pernah datang. Nurwahid dan teman-temannya hanya diantar hingga naik ke atas kapal. Kapal berangkat polisi yang mengantarkan turun. Di tengah perjalanan ada pemeriksaan tiket oleh petugas kapal. Karena tidak memiliki tiket, maka mereka dikenakan denda tiga kali lipat harga tiket. Karena uang tidak ada, maka mereka menjual baju dan celana yang mereka miliki. Namun itupun tidak bisa menutupi kekurangan uang denda. Mereka berjanji akan melunasi jika kapal sudah sampai di Donggala.

Ketika kapal sudah merapat di Pelabuhan Donggala Nruwahid dan kawan-kawan sudah ditunggu oleh orang yang mengaku anggota intel. Mereka diantar hingga Kayumaluai. Keesokan harinya Nurwahid ditangkap. Setelah ditangkap, Nurwahid dibawa ke kantor PNI untuk diperiksa. Sepanjang pemeriksaan Nurwahid disiksa oleh anggota militer yang memeriksanya. Ia dipaksa mengaku sebagai anak buah Letkol Untung dan wakil PKI dari Sulawesi. Dari kantor PNI ia dipindah ke rumah salah saeorang anggota PNI kemudian dipindah kembali ke Penjara.

Selama menjadi tahanan politik Nurwahid kerap diminta melakukan kerja paksa. Antara lain membangun bendungan, membuat perumahan, melakukan pengaspalan jalan. Selama menjalani kerja paksa ia dan tapol lainnya tidak pernah menerima upah. Kerja tanpa jaminan makan dan kesehatan.