4.1 Maharjoko

4.1

Maharjoko

Yogyakarta, 25 Juni 2001

Maharjoko dilahirkan di Purwodadi pada 1937. Sejak kecil ia sudah tertarik dengan seni lukis. Kemampuannya di bidang melukis melebihi anak-anak seusia di kampungnya. Cita-citanya ingin menjadi pelukis. Keinginan untuk menjadi seorang pelukis membuatnya pergi ke Yogyakarta untuk belajar seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia. DI Yogyakarta ia mulai berkenalan dengan pelukis-pelukis besar seperti Hendra Gunawan dan Sudjojono. Pada masa itu ada beberapa organisasi seniman di Yogyakarta, antara lain Pelukis Indonesia Muda (PIM), Pelukis Rakyat dan beberapa lainnya. Selain organisasi seniman, sanggar-sanggar seni juga banyak bermunculan.

Dalam perjalanannya, perdebatan mengenai hakekat seni juga mulai hidup. Antara lain mengenai “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat”. Maharjoko sendiri menganggap bahwa seni adalah untuk rakyat.

Selain terlibat dalam organisasi seniman, Maharjoko juga terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Bersama Lekra ia terlibat dalam pendirian Sanggar Bumi Tarung pada tahun 1961 dengan visi “melukis untuk mengabdi pada buruh dan tani”. Sebagai sebuah organisasi Lekra semakin tumbuh besar. Kebijakan politik Bung Karno juga dirasa memberikan dukungan terhadap tumbuh kembangnya Lekra. Pada tahun 1964 Lekra membuat pameran dengan tema “Anti Modal Asing, Anti Kapitalis, dan Mengabdi pada Buruh dan Tani.”

Masa kejayaan Lekra tidak berlangsung lama. Pascaperistiwa G 30 S organisasi ini menjadi sasaran amuk massa. Anggota-anggotanya diburu. Yang tertangkap dalam perburuan ditahan, dibunuh atau dibuang. Maharjoko ditangkap pada 8 November 1965. Ia ditahan di beberapa tempat, antara lain Kamp Beteng dan Kota Baru. Beberapa kali ia mengalami pemukulan oleh aparat. Menu makan yang minim dan tidak layak makan. Banyak tapol yang menemui ajal karena kelaparan. Banyak juga tapol yang tidak kembali setelah dibon pada malam hari. Ketika ditahan Maharjoko belum memiliki istri. Ia tidak mendapat kunjungan dan kiriman makanan dari rumah. Beruntung tapol yang mendapat kunjungan dan kiriman makanan dari keluarga kerap memberikan Maharjoko makanan.

Pada 1972 Maharjoko dibebaskan. Namun demikian ia harus menjalankan wajib lapor. Ia juga diwajibkan memilih Golkar jika pemilu tiba. Kontrol pemerintah terhadap karya-karyanya pun sangat kuat hingga 1987. Sekalipun memiliki kemampuan melukis yang luar biasa, Maharjoko justru menggunakan kemampuan menjahit yang ia peroleh secara otodidak untuk mencari nafkah. Baginya, aktifitas melukis adalah media untuk menyampaikan apa yang ia perjuangkan, bukan semata-mata untuk selera kolektor atau konsumen lukisan.

Pada 1996 ia membuat lukisan bertema “Angkara Murka” dan “Susu Raja Celeng.” Kemudian berturut-turut ia buat lukisan lagi dengan judul, “Berburu Celeng”, “Tanpa bunga dan telegram duka”. Tema “Angkara Murka” melambangkan penghancuran tatanan hidup oleh penguasa Orba. Sedangkan “Berburu Celeng” adalah cerminan dari nasibnya dan nasib tapol lainnya seperti celeng, mati digebuki orang. Lukisan-lukisan tersebut ia pamerkan pada pameran tunggalnya tahun 1991 di Jakarta dan Yogyakarta.