4.3 Mardiana

4.3

Mardiana

Yogyakarta

Mardiana lahir pada 1917 di Desa Purwa, Wonosari. Belum sempat menyelesaikan pendidikan sekolah Dasar, oleh orangtuanya Mardiyana dinikahkan dengan Dwijoisroyo. Pada saat itu Mardiyana berusia 14 tahun. Pada masa pendudukan Jepang semua anak perempuan di kampungnya disembunyikan oleh orangtua mereka. Wajah mereka juga dibuat jelek oleh para orangtua. Sebab jika mereka tampak cantik setiap saat tentara Jepang akan membawa mereka.

Pada masa kemerdekaan pemerintah mulai membuka sekolah. Suami Mardiyana dan seorang guru membuka sekolah di kampung mereka. Rumah orangtua Mardiyana yang kebetulan menjadi lurah dijadikan sekolah. Mereka memberi nama Kawulo Kesultanan pada sekolah tersebut. Sekolah dipindahkan ketika pemerintah sudah mampu membangun gedung sekolah baru. Selain mengajar, suami Mardiyana aktif sebagai anggota PGRI. Pada saat itu istri para guru banyak yang menjadi anggota Gerwani. Namun demikian, sekalipun suaminya sebagai seorang guru, Mardiyana selalu menolak jika diminta bergabung dengan Gerwani.

Pascaperistiwa G 30 S Mardiyana pergi ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Wonosari, ia sempat melihat mayat-mayat di tepi jalan. Setiba di rumah, anak-anaknya menangis dan memberitahu bahwa ayah mereka telah ditahan di Kodim dan dinyatakan terlibat G 30 S.

Setelah ditahan, suami Mardiyana dipecat dari jabatannya sebagai guru. Gajipun tidak lagi diberikan. Mardiyana harus banting tulang menafkahi anak-anak mereka. Selain itu ia juga harus menjenguk dan membawakan makanan untuk suaminya yang ditahan. Rumah dan tanah ia jual untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Ia juga harus menikahkan anak perempuannya dan mengkhitankan anak laki-lakinya. Tujuh bulan kemudian suami Mardiyana dibebaskan. Namun para tetangga tidak bisa menerima kehadirannya. Mereka menganggap keluarga Mardiyana adalah orang PKI, orang yang tidak baik. Tidak kuat menghadapi penolakan masyarakat, Suami Mardiyana berpamitan akan ke tempat adiknya. Namun hingga saat ini suaminya tidak pernah kembali.

Perlahan tekanan ekonomi keluarga mulai melonggar ketika anak-anak mereka mulai bekerja dan menikah. Mardiyana juga kerap diminta untuk membantu orang yang akan melahirkan (bersalin). Para tetangga mulai menerima keluarga mereka.