4.6 Supartini

4.6

Supartini

Yogyakarta, 16 Juli 2000

Supartini tidak tahu kapan ia dilahirkan. Ia dibesarkan di Desa Kulwo, Beji Harjo, Wonosari, Yogyakarta . Pada 1945 ia menikah dengan Harjo Priyono. Suaminya pernah menjadi Carik Desa Beji Harjo dan menjadi lurah di desa yang sama. Supartini tidak tahu apa saja kegiatan suaminya selain menjadi seorang kepala desa.

Harjo Priyono ditangkap tidak lama setelah Peristiwa G 30 S. Saat itu Supartini sedang sakit. Bersama putranya, ia menyaksikan langsung penangkapan suaminya. Pada saat itu Harjo Priyono berpesan bahwa ia akan disekolahkan oleh pemerintah, sebab ia kurang pandai. Harjo Priyono minta tolong kepada istrinya untuk menjaga anak-anak mereka. Sedangkan untuk membiayai sakitnya dan membiayai kebutuhan sehari-hari, Supartini diminta menjual apa saja yang mereka miliki.

Sejak penangkapan tersebut, Supartini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Ia mendatangi Penjara Wirogunan, Penjara di Cilacap, kantor Kodim. Namun ia tidak pernah menemukan suaminya. Ia pun selalu menunggu dan berharap suaminya pulang, namun hingga saat ini suaminya tidak pernah kembali.

Sepeninggal suaminya, Supartini harus menjual kambing, tanah, perabot rumah tangga. Bahkan ia pernah menjual pakaian dan piring. Semua ini ia lakukan demi membiayai kehidupan ia dan anak-anaknya. Akibat tekanan hidup yang begitu berat, Supartini sempat dirawat di rumah sakit jiwa.

Namun berkat kesabaran dan ketahanan dirinya, setelah putra-putranya tumbuh dewasa, sedikit-demi sedikit Supartini mampu bangkit kembali. Kebutuhan hidup mulai teratasi oleh penghasilan anak-anaknya yang membuka usaha bengkel dan merias pengantin. Hingga saat ini Supartini tidak pernah tahu keberadaan dan nasib suaminya.