4.10 Ramto

4.10

Ramto

Yogyakarta, 12 Juli 2000

Ramto tidak tahu pasti tanggal kelahirannya Di kartu tanda penduduknya tercantum tanggal (kira-kira) 14 Juli 1933. Ibunya adalah istri kedua bapaknya. Ayahnya meninggal saat Ramto berusia empat setengah tahun. Saudara kandungnya meninggal saat terjadi clash kedua dengan Belanda.

Ramto hanya memiliki ijasah SMP, sebab ia hanya duduk satu tahun di bangku SMA. Kewajiban untuk membantu ekonomi keluargalah yang memaksa dia meninggalkan bangku SMA. Pada 1954 Ramto mulai aktif dalam bidang organisasi. Ia dipercaya memimpin Pemuda Rakyat (PR) Ranting Jalan Baru, Wirobrajan. Keaktifannya dalam mengorganisir pemuda lewat olahraga dan kesenian cukup efektif untuk menjaring simpatisan. Perkembangan organisasi pun cukup pesat. Pada 1958 ia menjadi anggota DPRD tingkat dua. Setahun kemudian Ramto menikah dan memproleh dua orang anak.

Dalam kongres Pemuda Rakyat 1960 ia dinobatkan sebagai anggota Pemuda Rakyat Pertama se Jawa Tengah. Dalam kurun tahun 1962-1964 anggota PR mencapai dua juta orang. Banyak anggot PR yang menjadi sukarelawan/ti dalam komando Trikora dan Dwikora.

Tentang Peristiwa G 30 S, Ramto mendapat informasi mengenai berita itu dari siaran berita di radio. Ketika itu ia sedang berada di Semarang, menghadiri acara organisasi. Pada saat itu ia hanya menunggu informasi dan instruksi dari organisasi dan dari PKI. Namun informasi dan instruksi resmi tidak pernah datang hingga RPKAD tiba di Semarang. Ia kemudian kembali ke Yogyakarta.

Sekitar tanggal 16 November 1965 ia ditangkap. Ia dibawa ke kantor Polisi dan, kemudian dipindah ke Penjara Wirogunan. Selama di Wirogunan ia kerap mengalami penyiksaan. Mulai dari pemukulan sampai disetrum pada bagian kemaluan. Dari Penjara Wirogunan ia dipindah ke Penjara Magelang. Di Magelang ia dan sejumlah tapol lainnya melakukan kerja paksa membangun jalan kota Magelang. Dari Magelang ia dikirim lagi ke Wirogunan. Dari Wirogunan ia dipindah lagi ke Nusakambangan. Tahun 1970 ia dibuang ke Pulau Buru. Masuk dalam rombongan tapol kedua yang diberangkatkan ke Pulau Buru.

Di Pulau Buru ia mengalami penyiksaan yang lebih sadis lagi. Siksaan yang begitu hebat membuatnya pingsan hingga tiga kali dalam satu hari. Penembakan terhadap tapol tanpa alasan yang jelas juga kerap dilakukan oleh aparat militer yang bertugas di Pulau Buru.

Pada 1979 Ramto dinyatakan bebas. Ia diberangkatkan kembali ke Yogyakarta. Ia dapat berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya. Setelah masa pembebasan ia dikenakan wajib lapor/apel. Awalnya setiap hari, kemudian menjadi sekali dalam seminggu, sekali dalam bulan, dan setahun sekali. Pada suatu kali memenuhi wajib lapor ia dimintai uang sejumlah Rp. 200.000. Setelah memenuhi permintaan itu Ramto tidak pernah lagi diminta wajib lapor. Ramto sempat menjalankan bisnis percetakan. Namun bisnisnya terhenti karena ada peraturan menteri yang melarang tapol berbisnis percetakan.