6.22 Chandra

6.22

Chandra

Bali, 25 Agustus 200

Chandra berasal dari Sumbawa, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Karena hidup menumpang dengan kakak iparnya yang seorang tentara, maka Chandra pun harus mengikuti ke mana sang kakak ditugaskan, seperti Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Tahun 1959 ia menamatkan pendidikan SLTA di Bali.

Kecintaannya pada seni rupa mengantarnya ke Yogyakarta untuk belajar menulis. Pengagum Sudjojono dan Hendra Gunawan ini banyak bergaul dengan seniman yang tergabung dalam Lekra di Yogya. Saat itu di Yogya sedang berlangsung perdebatan tentang konsep seniman: seni hanya untuk berseni atau seni yang berpolitik.

Bersama dengan seniman Lekra, Chandra kerap pergi ke Jakarta, salah satunya adalah menjadi Panitia Negara yang akan membuat karya di istana negara. Pasca G 30 S banyak seniman Lekra yang ditangkap, namun Chandra terhindar dari gelombang penangkapan sampai tahun 1968. Namun pada akhirnya ia tertangkap dan ditahan di kamp penahanan Tangerang selama satu tahun, lalu pindah ke Salemba selama satu tahun sebelum akhirnya dibuang ke Pulau Buru selama tujuh tahun.

Di Pulau Buru ia tinggal di unit 14 dan sempat bergaul dengan banyak tokoh lain seperti Pramoedya Ananta Toer. Chandra kerap mengalami perlakuan kasar selama menjalani pembuangan di Pulau Buru. Saat banyak tahanan mengalami sakit, ia sering melakukan terobosan dengan memakan tumbuhan obat seperti daun bluntas. Aktivitas lain yang ia lakukan adalah bersawah/ berladang untuk memenuhi kebutuhan pangan unit dan melukis.

Selama di Pulau Buru ia juga sempat menyaksikan kunjungan Amnesti Internasional. Baginya kunjungan lembaga ini sangat penting untuk memberikan tekanan internasional kepada Indonesia atas perlakuan tidak manusiawi terhadap para tapol.

Tahun 1979 ia dibebaskan dari Pulau Buru dan sempat tinggal di lingkungan Gereja Katedral Jakarta. Kehidupannya banyak dibantu oleh kalangan Katholik, salah satunya adalah Romo Suto.

Tahun 1982 Chandra memutuskan pindah ke Lombok. Selama tinggal di Lombok ia sempat bolak balik ke Bali. Awalnya ia berniat untuk tinggal secara permanen di Bali, namun ijin tinggal selalu dipersulit, bahkan sempat ditolak oleh lurah lantaran statusnya sebagai eks tapol. Pada era reformasi pengawasan dan pembatasan terhadap Chandra mulai mengendur.