2.24 Dalang

2.24

Dalang

15 Maret 2001

Dalang dilahirkan pada tahun 1927 di Tasikmalaya. Ia sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar Jualen dan pendidikan setingkat SMP. Pada jaman pendudukan tentara Jepang ia menjadi anggota Sainendan. Pada masa itu ia juga menyaksikan bagaimana kondisi sosial masyarakat yang sangat tertindas, miskin, dan kelaparan.

Pada akhir masa pendudukan ia mendengar kabar bahwa sebentar lagi Jepang akan menyerah. Bangsa Indonesia harus bersiap-siap untuk merdeka. Berita tersebut dipertegas lagi dengan kedatangan Bung Karno dan disusul kemudian Bung Hatta ke Tasikmalaya yang menyerukan agar bersiap-siap menyambut kemerdekaan. Maka, sampailah berita Proklamasi Kemerdekaan. Dalang kemudian bergerak menyampaikan berita kemerdekaan dengan menempelkan bendera merah putih di sepanjang kota.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda berusaha menduduki Indonesia kembali. Dalang ikut berjuang bersama laskar rakyat yang ada di Tasikmalaya. a aktif dalam upaya menghimpun senjata dengan merebut persenjataan Jepang, menduduki pabrik-pabrik peninggalan Belanda dan Jepang. Dalang juga sempat mengalami maraknya aksi militer yang dilakukan oleh DI/TII. Kartosuwiryo.

Setelah tidak lagi terlibat dalam gerakan bersenjata, pada tahun 1957, Dalang kembali menekuni bidang yang ia senangi, yaitu kesenian, terutama menari dan mendalang wayang golek. Ia sudah mulai digemari masyarakat. Pentasnya di dalam dan luar kota Tasikmalaya. Ia mulai berkenalan dengan seniman-seniman Lekra. Ia pun menaruh simpati dan ingin bergabung dengan organisasi kesenian itu. Namun belum sempat ia menjadi anggota Lekra, meletuslah Peristiwa G-30-S.

Saat terjadi G-30-S, Bapak Dalang sedang dalam persiapan pentas wayang di Tanjung Priok, Jakarta. Kemudian ia kembali lagi ke Tasikmalaya. Selang beberapa waktu, ia kemudian ikut ditahan di Koramil dengan tuduhan “berbau” Lekra. Ia sempat ditahan di daerah Cianjur. Sekitar tahun 1970 dipindahkan ke Nusakambangan dan tahun 1971 dibuang ke Pulau Buru.

Selama dalam tahanan, ia mengaku sangat terbantu dengan kebiasaan dia berpuasa. Sebab, saat dalam tahanan, perlakuan dan pemberian makanan sangat tidak manusiawi. Berkat kebiasaan berpuasa, persoalan itu menjadi tidak terlalu berat baginya. Di samping itu, saat ia di Pulau Buru, ia dapat melanjutkan kegemarannya di bidang seni. Ia sering diminta pentas menari tarian, seperti tari Remong, Gatotkaca, Gandrung. Kadang juga diminta mendalang dalam acara-acara yang diadakan di Pulau Buru.

Tahun 1979, ia dibebaskan dan kembali ke Tasikmalaya. Setelah dibebaskan, ia jarang diminta pentas menari dan mendalang oleh warga masyarakat. Menurut perkiraan dia, kemungkinan warga masyarakat takut akan latar belakang Dalang. Mereka takut kalau-kalau dari pentas Dalang justru dianggap berbau politik dan bisa menimbulkan permasalahan bagi pemerintah.