3.43 Hardi

3.43

Hardi

28 Agustus 2000

Hardi lahir di Mlowokarang, Purwodadi sekitar tahun 1937. Hardi tidak tahu tanggal dan bulan kelahirannya, sebab dokumen-dokumen pribadinya dibakar oleh petugas dan massa yang menangkapnya. Tingkat pendidikan Hardi hanya sampai SR. Pekerjaan petani. Tahun 1959 Hardi menjadi anggota BTI. Pilihan masuk BTI semata-mata karena profesinya sebagai petani. Kegiatan Hardi selama di BTI adalah gotong royong membangun rumah warga secara bergiliran.

Bulan November 1965, ketika sedang makan, tiba-tiba tiga orang polisi dan sejumlah massa datang ke rumahnya. Massa terdiri dari pimpinan ranting Pemuda Marhaenis dan anggota Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR). Hardi dibawa ke kantor Camat Panunggalan. Sore hari, tanggal 11 November 1965 Hardi ditahan di bekas kantor Baperki Beberapa kali Hardi mengalami pemindahan tempat penahanan, kamp bekas kandang babi salah satunya. Ia juga pernah ditahan di rumah milik orang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan tempat penahanan.

Hardi dituduh memiliki senjata api dan mempunyai tiga buah lubang di sebelah rumahnya. Oleh petugas, tiga lubang tersebut dianalogikan sebagai Lobang Buaya. Lokasi di mana 6 jenderal dan satu orang perwira menengah dibunuh dalam Peristiwa G 30 S.

Kamp penampungan Hardi bersebelahan dengan kamp penahanan untuk tapol perempuan. Tiap malam ia melihat beberapa tahanan perempuan yang ia kenal “dibon”. Biasanya mereka dikembalikan ke selnya pada dinihari. Tahun 1966 Hardi dipindah ke Nusakambangan. Di Penjara Nuskambangan Hardi mendengar kabar bahwa tapol perempuan tersebut hamil dan melahirkan di kamp. Kepindahan Hardi ke Nusakambangan adalah strategi dari petugas pemeriksa – yang merupakan teman Hardi – untuk menghindari Hardi dari pembunuhan di kamp penampungan.

Di Nusakambangan jatah makan hanya jagung pipilan yang jumlahnya sekitar 36 biji. Jika jagung habis maka jatah makan tapol menjadi bulgur atau gaplek yang sudah menjadi bubuk. Untuk bertahan hidup tapol makan buah karet, ampas kelapa, kulit pisang. Banyak tapol yang akhirnya mati karena busung lapar dan beri-beri. Pernah satu kali tapol dipukul hingga mati karena ketahuan mengais makanan di tempat sampah saat dipekerjakan di luar tahanan.

Di Nusakambangan Hardi masuk dalam kelompok pemakaman. Dalam sehari ia bisa tiga kali memakamkan. Sekali memakamkan bisa tiga sampai lima jenazah temannya. Kedalaman makam tidak lebih dari selutut dan jenazah-jenazah itu dimakamkan dalam satu lubang yang sama. Hal ini disebabkan para tapol yang bertugas memakamkan tidak memiliki tenaga untuk menggali lubang lebih banyak dan lebih dalam lagi.

Bulan Agustus tahun 1969 Hardi dibuang ke Pulau Buru. Di Pulau Buru ia kerap memergoki petugas mencuri kayu hasil kerja para tapol. Bukan hanya kayu, ternak peliharaan tapol pun kerap diambil paksa oleh para petugas.

Tahun 1979 Hardi bebas. Ketika tiba di rumah, adiknya bercerita bahwa sejak Hardi ditahan istrinya kerap ditiduri oleh banyak orang. Hari ini diminta melayani tentara, besoknya giliran kepala desa, lusa ketua RT, hari berikutnya Pemuda Ansor, hari berikutnya lagi pemuda Marhaenis. Begitu seterusnya, hingga tahun 1977. Istri Hardi meninggal karena depresi. Pernah satu ketika, setelah membantai anggota dan simpatisan PKI, seorang Pemuda Ansor datang dan bermalam di rumah Hardi dengan baju dan samurai berlumur darah.

1.28 Hardi

1.28

Hardi

Jakarta, 19 Juni 2000

Hardi dilahirkan di Cirebon pada tanggal 27 Desember 1926. Ayahnya seorang pegawai perusahaan kereta api Belanda. Hardi sempat mengenyam pendidikan HIS partikelir Cirebon pada tahun 1937. Karena orang tua pekerjaannya dipindahkan ke Semarang, maka Hardi menyelesaikan HIS di Semarang.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia Hardi sudah duduk di Sekolah Menengah Tinggi. Ia juga tergabung dalam pasukan pelajar. Pada masa kemerdekaan ia tergabung dalam AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) dan di GASEMSE (Gabungan Sekolah-Sekolah Menengah Semarang). Ia sempat terlibat dalam beberapa pertempuran melawan pasukan Belanda dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Ayah Hardi juga terlibat dalam proses nasionalisasi perusahaan kereta tempatnya bekerja. Bahkan sempat mengamankan sebuah lokomotif.

Selama tergabung dalam tentara pelajar, Hardi sering keluar masuk sekolah. Ia baru bisa konsentarsi dalam sekolah pada tahun tahun 1951, ketika itu Presiden Soekarno meminta pasukan tentara pelajar kembali ke masyarakat karena Indonesia akan membutuhkan tenaga untuk pembangunan. Hardi sempat bersekolah di Fakultas Hukum, Ekonomi dan Sosial Politik Universitas Gajah Mada, Ekonomi. Ia juga sempat pindah ke Universitas Indonesia. Namun ia hanya dapat menyelesaikan jenjang D1. Tahun 1956 ia menikah.

Tahun 1955, Hardi juga ikut terlibat pengamanan terhadap Konfrensi Asia Afrika. Tahun 1956 ia sempat bekerja di kepolisian Indonesia. Karena bosan ia sempat pindah ke Kantor Penempatan Tenaga Kerja Jakarta Raya. Setelah beberapa lama, ia kemudian pindah lagi ke Departemen Veteran pimpinan Chairul Saleh. Selama bekerja di Departemen Veteran, Bapak Hardi aktif di organisasi Serikat Pekerja dalam memperjuangkan sosial ekonomi Karyawan di sana. Namun saat itu pihak Departemen berseberangan dengan serikat Pekerja.

Pada tahun 1965, setelah meletus G-30-S. Keaktifan di Serikat Pekerja itulah yang membuat Hardi ditangkap dan dituduh terlibat G-30-S. Ia ditahan tahun 1968. Ia dibawa ke Rawa Kemiri Kebayoran Lama selama sekitar enam bulan. Di sana ia diperiksa dan disiksa (dipukul, diinjak dengan meja, distrum). Sebelum kemudian dipindahkan ke Salemba dan Tangerang. Ia baru dapat dikunjungi istrinya setelah enam bulan ditahan. Dan selama ditahan di Salemba dan Tangerang itu, ia menyaksikan bagaimana manusia tidak diberikan perlakuan yang wajar. Tidak ada jaminan makanan dan kesehatan yang layak. Banyak tahanan yang mati karena sakit dan kelaparan.

Hardi dibebaskan tahun 1979. Ia berpikiran bahwa pembebasannya juga berkat tekanan pihak Palang Merah Internasional. Setelah bebas ia mencari pekerjaan di beberapa perusahaan, namun gagal karena ada “stempel” eks tapol pada dirinya. Ia kemudian ikut membantu istrinya berjualan makanan kecil. Ia mengontrak rumah dan tinggal berpindah-pindah. Sekitar tahun 1996, istrinya meninggal. Sekarang hidupnya hanya mengandalkan dari anak-anaknya.