2.21 Jaelam

2.21

Jaelam

Tasikmalaya, 3 April 2001

Jaelam lahir pada tahun 1940 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kesulitan ekonomi membuat sekolahnya harus berhenti di bangku kelas dua SMA. Semasa sekolah di SMA ia sudah aktif dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI).

Setelah putus sekolah ia memilih kursus otomotif di sebuah Yayasan di Jawa Barat. Ia pun tertarik dengan organisasi Pemuda Rakyat. Ketertarikannya bermula dari seringnya ia melihat anggota Pemuda Rakyat membantu warga yang mengalami kesulitan. Pergaulannya dengan orang-orang yang bekerja pada bidang otomotif pun mengantarnya bergabung dalam organisasi Serikat Buruh Kendaraan Bermotor (SBKB). Kegiatan yang dilakukan SBKB antara lain melakukan advokasi kepentingan para sopir dan pengguna kendaraan bermotor. Selain itu SBKB juga kerap mengadakan kursus-kursus tentang teori Karl Marx.

Setelah Peristiwa G-30-S, pada tanggal 14 November 1965, ia dipanggil ke markas Koramil. Selang 10 hari kemudian ia dipangil ke markas Kodim. Ia dituduh terlibat Peristiwa G-30-S. Tanggal 19 Januari 1966 terjadi pembebasan massal tapol, ia termasuk orang yang dibebaskan. Namun tidak boleh pergi ke mana-mana (keluar desa), dan wajib lapor.

Sekitar bulan Maret 1968, Jaelam ditahan kembali. Kemudian ia dipindahkan ke Nusakambangan. Tahun 1970 ia dibuang ke Pulau Buru, masuk dalam rombongan ketiga yang dibuang ke pulau tersebut.

Selama menjalani penahanan, ia sering mengalami penyiksaan. Jatah makanpun sangat tidak memadai. Kadang, untuk bertahan hidup, ia dan tapol lainnya harus memakan bonggol pisang.

Tahun 1979 ia dibebaskan dari penahanan. Di Tasikmalaya ia mendapat beberapa tawaran kerja teman lamanya. Namun ia memilih kerja di bidang otomotif, dan untuk itu harus bekerja pada Teten, seorang anggota Golkar Tasikmalaya. Dari Teten ia memperoleh informasi bahwa kesempatan kerja bagi para tapol dan keturunannya memang dibatasi oleh pemerintah.

Pada era refromasi Jaelam bergabung dengan organisasi Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Ia berharap, lewat organisasi ini dapat memperjuangkan hak-hak para tapol, termasuk dirinya. Ia juga berharap tidak ada lagi diskriminasi kepada anak cucu mantan tapol ’65.