3.46 Sarjono

3.46

Sarjono

Purwodadi, 2000

Lahir pada 1942. Pendidikan hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakyat. Tidak dapat melanjutkan ke SLTP karena orang tua miskin. Ketika remaja ia tertarik dengan Pemuda Rakyat (PR). Di kampungnya, ia pun bergabung dengan organisasi tersebut.

Ia baru tahu ada peristiwa G 30 S setelah ia diminta untuk datang ke kantor kecamatan. Itu terjadi pada bulan November 1965. Dari kantor kecamatan ia dibawa ke kantor polisi. Beberapa kali ia mengalami pemindahan tempat penahanan, termasuk di bekas kandang babi. Jatah makan selama di penjara sangat minim sekali. Sering kali nasi yang disuguhkan sudah bau dan bercampur dengan batu krikil. Setelah beberapa kali mengalami pemindahan tempat penahanan, Sarjono dikirim ke Nusakambangan. Di Nusakambangan Sarjono menempati Blok Batu. Perlakuan petugas di Nusakambangan sangat semena-mena. Memperlakukan tapol tak lebih seperti memperlakukan binatang. Jika apel, cara menghitungnya adalah dipukul satu per satu. Tidak hanya petugas penjara narapidana kriminalpun diberikan otoritas yang luar biasa terhadap para tapol. Napi sama ganasnya dengan petugas penjara. Jatah makan adalah gaplek dengan frekuensi makan tiga kali sehari. Kadang gaplek digantikan dengan gerontol (jagung pipilan). Untuk dapat bertahan hidup tapol harus memakan sesuatu yang sebenarnya bukan makanan, bonggol pisang salah satunya.

Banyak tapol menemui ajal karena kelaparan. Pemakaman dilakukan oleh tapol sendiri. Karena kondisi tapol lemah dan tidak adanya fasilitas untuk memakamkan jenazah, proses pemakaman pun dilakukan degnan tidak sebagaimana mestinya. Penghuni sel jauh melebihi kapasitas sel itu sendiri. Karena terlalu sempit, jika tidur para tapol harus bergantian

Tahun 1969 Sarjono dibuang ke Pulau Buru. Ia menempati Unit Sepuluh. Jatah makan di Pulau Buru sangat minim dan hanya untuk beberapa bulan ke depan. Sementara para tapol tidak tahu sampai kapan mereka dibuang di Pulau itu. Dengan fasilitas yang minim dan di bawah tekanan tentara, tapol mampu menyulap padang rumput menjadi lahan pertanian yang subur.

Di Pulau Buru ia mengalami perstiwa terbunuhnya petugas pengawal oleh tapol, dan empat orang tapol dibunuh oleh penduduk asli Pulau Buru. Ketika masih dalam penahan di Pulau Buru, ia mendapat surat permintaan cerai dari istrinya. Ia pun mengabulkan permintaan tersebut.

Ketika Sarjono bebas, bekas istrinya datang bersama suaminya. Suami dari bekas istrinya bermaksud menyerahkan kembali istrinya kepada Sayono. Sayono menolak. Pertimbangannya, mereka telah menikah secara resmi. Sarjono hanya berpesan agar bekas istrinya diperlakukan secara baik.