GEDUNG PERKANTORAN PEMERINTAH KOTA SURAKARTA

 

ALAMAT

Jl. Arifin, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo-Surakarta

Berada di dalam kompleks Gereja St. Antonius Purbayan, di sebelah selatan gedung gereja, berhadapan dengan gedung BNI 46. Di sebelah selatan gedung UPKS terletak gedung Balaikota Surakarta. 

 

FUNGSI BANGUNAN:

Sebelum Peristiwa 1965:  

Pemilik tanah dan bangunan Gereja St. Antonius Purbayan. Namun pasukan Belanda sempat mempergunakannya sebagai markas mereka. Setelah proklamasi kemerdekaan, gedung digunakan Pemkot Surakarta sebagai perkantoran.

 

 

Saat Peristiwa 1965:

Penguasa militer mengubah fungsi gedung menjadi markas Tim Pemeriksa Pembantu (Timperban) Surakarta, sekaligus tempat penahanan dan interogasi sejak kedatangan RPKAD ke Solo, kemungkinan hingga pertengahan 1968. Lantai bawah gedung digunakan sebagai tempat penahanan para tapol perempuan, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat interogasi para tapol dari berbagai kamp tahanan. Sejumlah tapol bercerita, karena langit-langit/lantai atas terbuat dari kayu, kerap kali darah tapol yang sedang disiksa di lantai atas menetes ke bawah sepanjang dinding.

 

Sekarang

Di bawah pemerintahan pemangku Walikota Letkol. Th. J. Soemantha, pada paruh kedua 1968 gedung tersebut dikembalikan kepada pihak Gereja St. Antonius dan sekarang difungsikan sebagai gedung paroki.

 

PENGUASA TEMPAT PENAHANAN

Penguasa gedung adalah Timperban dibantu oleh pasukan kawal. Timperban di dalam struktur penguasa militer berada di bawah Tim Pemeriksa Cabang (Teperca) Surakarta, yang bertanggung jawab kepada Tim Pemeriksa Daerah (Teperda) Jawa Tengah, yang dikomandoi oleh Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Timperban Surakarta terdiri atas unsur-unsur: CPM, purnawirawan CPM, GPTP (Gerakan Pelaksana Tjita-Tjita Proklamasi; dibentuk oleh eks-Tentara Pelajar), kejaksaan, kepolisian, kodim, LP, dan Mahasura (Resimen Mahasiswa Surakarta; gabungan mahasiswa sejumlah universitas di Surakarta). Satu dari tiga anggota kepolisian dalam Timperban Surakarta adalah Kasno. Anggota dari unsur LP bernama Marsus. Salah satu dari dua anggota Mahasura biasa dipanggil Mas Pur. Sementara itu, keterangan yang ada mengenai jaksa anggota Teperca Surakarta hanyalah ia seorang etnis non-Jawa. Ketua Timperban mengalami beberapa kali pergantian dari Pelda Soewarso kepada Letnan (?) Suparman, Pelda Sukiman (asal Tipes), kemudian Supatmo (asal Ngemplak-Rejosari, Gilingan).

Pasukan kawal di lokasi penahanan ini berganti-ganti dari Polisi, Angkatan Darat (diantaranya pasukan Siaga dari Brigif IV yang bermarkas di Slawi dan militer Kodim), Angkatan Udara, dibantu Hanra (Pertahanan Rakyat), KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia).

           

TAPOL

Maryatun, anggota Lekra, ditahan di gedung perkantoran Balaikota setelah sekitar lima bulan ditahan di CPM Surakarta. Ia memperkirakan tapol perempuan yang ditahan di tempat itu berjumlah 200an orang sehingga: Kalo [tidur] miring, miring semua, supaya cukup.  Nanti kalo, miring ke sana, ya miring ke sana semua [1] . Di samping itu ada sekitar 19 balita yang turut bersama ibu mereka yang ditahan di gedung ini.

 

Para perempuan tahanan setiap kali mendengar suara-suara tapol yang sedang disiksa di lantai atas gedung.

 

Sekarang bayangkan, Bu, setiap malam setiap siang itu tanpa ada hentinya, darah itu dari atas itu lewat dari sela-sela apa enter, apa ini ya? ... Internit itu. Netes itu. Padahal di bawah itu ibu-ibu. Ndak pernah bisa tidur, bagaimana bisa tidur, Mbak?

 

Tapol perempuan yang ditahan di gedung tersebut bukan hanya diinterogasi di lantai atas, tapi juga seringkali masih dibon untuk diinterogasi di kamp-kamp lain:

 

Akhirnya, di situ untuk, ibu-ibu juga di-verhoer, jadi, selama kita di, di Balaikota itu, paling jaraknya dekat itu, dua seminggu sekali.  Jadi tiap malam itu mesti dibawa. Entah dibawa ke, koramil, entah ke DPKN, entah ke gini, ke Balaikotanya di, Loji Gandrung itu loh, Mbak. Di situ kan semua, semua ormas-ormas itu. Dari, apa itu, dari Masyumi, tapi yang masih ngotot itu dari Masyumi waktu itu, Mbak. ... Diinterogasi lagi. Lalu dipukuli lagi. Sudah, setiap kita diinterogasi itu ndak ada kok tangan nggak ngelawe ke tempat ibu-ibu, itu ibu-ibu. Termasuk Yu Narti juga itu. Itu juga penuh penyiksaan itu apalagi Mbak Narti itu. Dia itu sudah, nyata kalo suami itu ya, jadi DPR pertama, kemudian, apa itu dia juga pimpinan Pemuda Rakyat kota. Itu sudah semestinya. Dia sudah ngelenggono, Nek saya itu pimpinan itu harus saya  menerima.” Akhirnya saya, itu semua diperiksa. Ngawur pokoknya mau tidak mau, entah bener ndak salah, pokoknya dia ingin. Dia alasan untuk apa itu, Mbak, untuk memeriksa itu hanya untuk mau menyiksa itu saja. Mau ngambil. Ternyata kalo bertanya itu ndak, ndak pada pokoknya masalah politik ndak, hanya, “Kowe lonte (Kamu pelacur) Gerwani, kowe (kamu), apa itu, pengkhianat Negara,” gitu. Pokoknya dicaci maki lah, Mbak. Jadi setiap kita, kita, ber______dengan yang itu, yang berkepentingan itu, beliau pasti hanya men, men, menyaci, itu ya, caci-makian, kemudian penyiksaan itu [2] .

 

Suatu hari di bulan Desember 1965, empat tapol perempuan yang dibon – kemungkinan besar ke CPM Surakarta --  dikembalikan ke Balaikota. Mereka diperintahkan untuk mengemasi barang-barangnya. Empat tapol perempuan itu adalah Kustinah Sunaryo, Ibu Harun Al-Rasjid, Kayati dan Partinah. Demikian penuturan Sriyani yang ditahan dalam satu sel dengan Ibu Harun Al-Rasjid:

 

Saya masuk [ditangkap] tanggal 5 Desember, tanggal 9 dibawa ke Balaikota. Di situ Bu Harun masih di situ. Terus kira-kira satu minggu lebih, Bu Harun dibawa pergi ke luar. Terus Bu Harun kembali ke Balaikota lagi, pamitan sama teman-teman, empat orang dibawa ke luar lagi itu sampe, sekarang ndak kembali [3] .

 

Agaknya keempat perempuan itu sudah tahu bahwa mereka akan dibunuh.

 

Tau-tau kembali situ terus Bu anu itu bilang, “Wis pokoke aku iki mati. Iki pamitan ayo nyanyi mares (Sudah pokoknya aku ini mati. Ini pamitan ayo nyanyi mars)!” gitu. Terus nyanyi-nyanyi. ... dia itu banyak senyum malahan: “Jangan takut! Jangan takut! Teruskan perjuanganmu!” gitu [4] .

 

Apa alasan penghilangan paksa keempat perempuan tersebut? Mengapa keempat perempuan tersebut yang dipilih untuk dihilangkan? Pertanyaan itu muncul mengingat sejumlah perempuan tokoh ormas kiri lainnya di Solo dibiarkan hidup, diantaranya Sunarti yang juga ditahan di Balaikota. Demikian pula tak ada satupun pucuk pimpinan Gerwani maupun perempuan pimpinan ormas kiri lainnya di Jakarta yang dieksekusi atau dihilangkan paksa. Menurut Sutinah, tapol termuda di Balaikota, kabar yang beredar di kalangan para perempuan tapol mengenai alasan penghilangan paksa keempat perempuan tersebut adalah karena mereka berani menantang interogator dengan mengungkapkan fakta pelaku pembakaran wilayah sentra bisnis Solo.

 

Wong (orang) dia ditanya itu tim  pemeriksa itu: “Siapa yang mbakar Toko Obral?”

“Bapak mau tau yang membakar Toko Obral? Mari ke tempat saya! Yang membakar Pemuda Ansor,” gitu. Langsung jawab gitu, diambil. ...Ibu Harun abis, mau diperiksa itu tho, diperiksa dia, “Ibu Harun tau yang membakar toko-toko itu?”

“Saya tau, Pak, yang membakar Toko Obral. Bapak mau tau orangnya? Mari ke tempat rumah saya!” gitu. Anu, begitu Bu Harun nantang begitu langsung itu pergi itu. ...

Bu Harun kan habis diperiksa kembali ke kamp lagi [dia bercerita pada sesama tapol], dia kan berani kan dia sebagai ketua. ... Ketua Gerwani tho dia. ... Kota, dia tingkat kota, Mbak. Bu Kus barang (juga). Lah dia kalo, anggota begini : “Siapa yang membakar Toko Obral?”

“Pemuda Rakyat sama PKI,” gitu kita njawabnya. ...Kalo kita ini sudah ditanyai, digeblek-geblek, ya udah [menjawabnya], “PKI.”

...Dia kendelan, ditanyai ya berani.

 

Namun Siti Soendari, pimpinan SOBSI, serta Salawati Daud, pendiri Gerwis, juga terkenal di LP Bukit Duri, Jakarta, karena keberanian mereka menantang penguasa militer. Siti Soendari mengalami penyiksaan luar biasa (digantung, tubuhnya dicacah, anak perempuannya dihilangkan paksa), tapi ia sendiri selamat sampai dibebaskan. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas agaknya hanya bisa didapat jika dilakukan penelusuran lebih lanjut tentang latar belakang keempat perempuan.

 

Kekerasan seksual juga menjadi persoalan di Kamp Balaikota. Suratman yang sempat dipekerjakan paksa sebagai pembantu Timperban mengatakan bahwa ia sering mendengar petugas Timperban melecehkan atau bahkan melakukan penyerangan seksual terhadap para tapol perempuan:

Ya dengar-dengarnya sepotong-sepotong itu, dia itu diinterogasi sana kemaluannya dilebokan (dimasukkan) sama laras senapan, entah pistol - pura-pura mau melihat gambar [tato] dadanya, “Coba buka susu, buah dada itu ada PKI-nya itu!” “Nggak!” “Coba situ kemaluannya ada tatonya ndak?!” Kebetulan saya ini dijadikan pesuruh Balaikota, di Timperban jadi saya dengar [5] .

Suatu malam Hartati dipanggil ke atas oleh seorang tentara CPM bernama Ero. Dengan dalih hendak melukis Hartati, Ero meminta Hartati melepaskan baju atasannya.

 

Pak Ero yang rumahnya di Kartosuro itu manggil saya ke atas, saya deg-degan toh, ... kok saya dipanggil gitu, enggak tahunya saya mau dilukis gitu lho, dilukis telanjang, enggak telanjang bulet, cuman sebatas dada, ini rambutku cuman ditutupin gini aja gitu, suruh begitu, aku mau iya gimana, kalo enggak gimana, kita orang tahanan kan serba susah, untungnya ada temennya dari CPM dateng, kalo dia bukan orang dari CPM, dari GPTP itu tadi, untungnya ada orang itu, terus aku cepet-cepet, “Ngapain itu?”. “Wong arep tha, aku kok, tha gambar (Orang mau aku, aku kok, aku gambar).” “Macem-macem aja! Enggak boleh!”. Gitu. Terus pake baju aku, kan rambutku segini dulu, tak klewerin gini, jadi telanjang cuman ditutupin gitu aja [6] .

 

Hartati menuturkan bahwa ada sesama tapol lain yang juga mengalami kekerasan seksual seperti dirinya:

 

Di waktu pemeriksaan itu namanya orang banyak gimana, enggak mau gimana, enggak mau kan enggak bisa, yang namanya diperiksa di waktu itu, bener-bener, pelecehan buat mainan, tapi bukan aku, temen-temen kita banyak yang gitu, yang namanya istrinya Si Man, Man itu, Tumini apa siapa itu, orangnya molek, putih, ditelanjangin, ditelanjangin, sampe nangis-nangis itu, apa enggak, itu perikemanusiaannya kemana? Itu kan bangsa kita. Maaf ya, itunya buat mainan, masuk-masukin barang apa enggak, itu banyak banget, banyak banget, apa lagi tim yang di Panasan itu, aku kan ada temen yang toko sepatu Kartosuro, yang dicari itu kakaknya, adiknya yang dibawa, keliru, masukin lok, sampe membengkak, akhirnya meninggal, coba apa enggak ngeri kayak begitu, itu banyak banget kayak begitu [7] .

 

Cerita-cerita tentang kekerasan seksual yang dialami tapol perempuan umumnya memang tidak didapat dari korban sendiri, tapi dari saksi.

 

Penguasa militer menyiksa tapol juga dengan cara menyediakan makanan berkualitas buruk.

 

Makannya itu, ya itu tadi daun jati bungkusnya, nasinya satu kenong thok, kemudian sama, apa tholo digodog saja, kasih garem saja itu nggak ada, rasanya apa-apa, itu kalo kita menerima itu jam, 12 malam. Baru makan itu, Mbak. ... Sebab yang, ngirim itu ke mana-mana. Jadi semua, tahanan itu hanya satu ini, satu personil [tertawa] yang ngirim. Ternyata kalo digilir, kalo yang dulu itu di mana dulu, nanti yang dari, yang terakhir di mana. Itu setiap hari itu yang di _____ itu terakhir. Jadi makannya itu 12 jam 12 malam. Padahal di situ buaaanyak anak-anak kecil. Kirang kurang-lebih ada 12 kalo ndak 19an itu. ... saya liat anak-anak itu, jatahnya kan jatahnya ibu, anak kan ndak dapet, itu ada salah seorang AURI yang, pokoknya ya, mungkin, dia trenyuh melihat kita orang itu, yang mendapat jatah AURI itu saya sama Mbak Yati itu, saya ndak makan saya kasihken anak-anak itu, Mbak. .. [8]

 

Menu makanan kemudian sempat diubah menjadi bulgur. Namun setelah Maret 1966, penguasa tahanan tidak lagi memberi makan para tapol. Oleh karena itu, mereka mengijinkan para tapol untuk keluar tahanan seminggu sekali untuk mencari makan sendiri.

 

TINDAK PELANGGARAN HAM

I.               Penahanan sewenang-wenang

 

II.             Penyiksaan dalam proses interogasi (bertujuan untuk memaksakan pengakuan):

 

III.           Penyiksaan di luar proses interogasi:

a.   Tapol disiksa secara psikologis (dimaki-maki/dilecehkan; terpaksa mendengarkan suara kesakitan tapol-tapol lain yang sedang disiksa di lantai atas).

b.   Tapol disiksa dengan cara dihujan-hujankan.

c.   Pelecahan seksual: ditelanjangi

 

IV.           Pemerkosaan dan penyerangan seksual (ditelanjangi, laras pistol dimasukkan ke dalam vagina)

 

V.             Pem-bon-an dan penghilangan paksa terhadap empat tapol perempuan kemungkinan pada akhir Desember 1965:

a.    Ibu Kustinah Sunaryo (penduduk Jagalan-Laweyan, pimpinan Gerwani, anggota DPRD TK II Surakarta dari F-PKI, kepala sekolah, suaminya adalah ketua PWI Cabang Surakarta/responden Harian Rakyat yang juga hilang pada waktu hampir bersamaan)

b.    Ibu Partinah (kemungkinan pimpinan SOBSI)

c.    Ibu Kayati (warga Jagalan-Jebres, sekretaris PR Kota)

d.    Ibu Harun Al-Rasjid (warga Baluwarti, ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerwani Solo, suaminya adalah pengawal Oetomo Ramelan)

 

VI.           Pemberian jatah hidup di bawah standar minimum:

  1. jatah makan tidak memadai secara kualitas maupun kuantitas, bahkan kemudian dihentikan sama sekali.
  2. Ruangan tempat penahanan tidak sebanding dengan jumlah tapol yang ditahan dan tidak diberi alas tidur
  3. penguasa tahanan tidak memberi layanan kesehatan/pengobatan sama sekali

 

 

Sumber

Erlijna, Th. J. “Jurnal Lokakarya Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo, 20-26 Juni 2006”. Juni 2006

Lingkar Tutur Perempuan. “Kronik Tragedi 1965 di Solo”. Oktober 2006

Lingkar Tutur Perempuan. Laporan Lokakarya Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo, 25 Juni 2006”. Juni 2006

Lingkar Tutur Perempuan. “Notulensi Rapat Persiapan Lokakarya Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo, 23 Juni 2006”. Juni 2006

Lingkar Tutur Perempuan. “Notulensi Tutur Perempuan Solo, 17-18 April 2005”. April 2005

Pakorba Solo. “Kronik Tragedi 1965 di Solo”. Agustus 2006

Setiawan, Hersri. Kidung untuk Korban (Yogyakarta: Pustaka Pelajar kerja sama dengan Pakorba-Solo dan YSIK, Juli 2006)

 

 

Wawancara:

Hartati, Solo, 21/4/05

Joko, Solo, 15/10/06

Mariyatun, Solo, 19/4/05

Sriyani, Solo, 19/4/05

Sunarti, Solo, 19/7/00

Tarini, Solo, 13/4/05

 

  << KEMBALI

 
 

[1] Wawancara Maryatun, Solo, 19/4/05

[2] Wawancara Maryatun, Solo, 19/4/05

[3] LTP, “Notulensi Lokakarya III Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo”, Solo, 15-16 Oktober 2006, hal. ...

[4] LTP, ibid. (15-16 Oktober 2006), hal....

[5] LTP, “Notulensi Lokakarya III Pemetaan Kekerasan dalam Tragedi 1965 di Solo, Kelompok Diskusi Bapak-bapak”, Solo, 15-16 Oktober 2006, hal. 29.

[6] Wawancara Hartati, Solo, 21/4/05.

[7] Wawancara Hartati, Solo,

[8] Wawancara Maryatun, Solo, 19/4/05