Institut Sejarah Sosial Indonesiatelah bekerja sejak 2000 untuk mengedepankan penelitian-penelitian sejarah sosial di Indonesia. Sebagai akibat militerisasi historiografi Indonesia sejak periode Orde Baru, sejarah bangsa kita selalu dianggap tidak relevan dalam pendidikan, dan juga semakin kehilangan perannya dalam membangun ke-Indonesia-an.

Direktur:

Ayu Ratih

Peneliti:

M. Fauzi

Razif

Th. J. Erlijna

Grace Leksana

Taat Ujianto

Rinto Trihasworo

Alit Ambara

ISSI berusaha untuk memperbaharui situasi ini dengan memutar balik arah penelitian sejarah kita, salah satunya dengan mempopulerkan sejarah sosial. Sejarah sosial di sini bukan berarti menentang sejarah yang elitis, yang hanya berisi narasi-narasi politik elit, namun mencoba melihat dinamika sosial di bawah dan relasinya dengan konteks politik yang lebih besar. Tidak jarang kita melihat bahwa dinamika sosial ini justru dipengaruhi dan mempengaruhi negara.

Penelitian awal ISSI adalah proyek sejarah lisan 1965 yang merupakan penelitian sejarah lisan pertama di Indonesia yang berusaha secara komprehensif mengumpulkan dan menganalisa kisah-kisah korban 1965. Hasilnya dapat dilihat di buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 1965, Esai-esai Sejarah Lisan. Tema-tema penelitian kemudian berkembang menjadi sejarah organisasi perempuan, sekolah Tionghoa, komunitas buruh, sejarah preman, dan sebagainya. Selain itu, ISSI juga melakukan beragam riset yang dilakukan bersama lembaga-lembaga jaringan, seperti peristiwa Mei 1998 dan Semanggi (bekerja sama dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan), serta riset Solo dan peristiwa 1965 (bekerja sama dengan ELSAM). Publikasi lain yang terkait dengan isu 1965 adalah buku Dalih Pembunuhan Massal yang terbit pada 2008.

Data-data yang diperoleh dari penelitian- penelitian tersebut tersimpan di perpustakaan ISSI. Hingga saat ini, ISSI memiliki koleksi arsip suara sekitar 390 wawancara, dan lebih dari 4000 judul literatur (buku, makalah, majalah), serta koleksi audiovisual (foto dan rekaman audiovisual wawancara sejarah lisan). Kami juga mengelola koleksi khusus Pramoedya Ananta Toer dan Timor Timur.

Sebagai bentuk komitmen kami terhadap perkembangan sejarah sosial di Indonesia, program kami tidak hanya berhenti pada penelitian. Bersama jaringan-jaringan ISSI, kami mencoba memproduksi karya-karya lain berbasis sejarah yang bisa digunakan secara lebih luas di masyarakat. Misalnya, ISSI telah bekerja bersama ELSAM dan Lingkar Tutur Perempuan sejak… untuk membantu proses rekonsiliasi korban-korban perempuan peristiwa 1965. Selain itu, sejak 2006, ISSI telah ISSI telah memulai program bersama guru-guru sejarah di Indonesia yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah (MGMP Sejarah) DKI Jakarta dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Bagi guru-guru sendiri, bekerja bersama lembaga seperti ISSI sangat membantu mereka dalam mengembangkan bahan dan metode pengajaran sejarah di tingkat SMA. Pada 2011, ISSI bersama AGSI telah membuat bahan ajar sejarah berbasis 5 tokoh nasional, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, Agus Salim, Kartini, Douwes Dekker dan SK Trimurti. Selain itu, koleksi khusus foto-foto Oey Hay Djoen juga kami kelola menjadi bahan ajar tentang periode 1950-60. Di luar bahan ajar, ISSI bersama Lembaga Kreativitas Kemanusiaan dan rumah produksi Cangkir Kopi membuat film Tjidurian 19, sebuah film dokumenter tentang lembaga kebudayaan Lekra. Hingga saat ini, kerja-kerja bersama jaringan untuk memproduksi karya-karya sejarah popular masih berjalan beriringan dengan penelitian-penelitian sejarah sosial.

Buku

Thesis

Jurnal

Esai

Alamat Kami

Jalan Batu Ratna III No.9D, RT.17/RW.5, Batu Ampar, Kramatjati, Jakarta Timur, Jakarta 13520

Email: sejarahs@gmail.com